Perang Dagang Mulai Tekan Neraca Dagang Indonesia

Andhika Prasetyo
15/10/2018 20:35
Perang Dagang Mulai Tekan Neraca Dagang Indonesia
(Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara -- MI/Permana)

EKONOM Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengungkapkan kinerja ekspor Indonesia masih akan tertekan selama perang dagang antar negara-negara besar masih terus bergulir.

Hal itu terlihat dari capaian penjualan ke Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang mencatatkan penurunan 6,9% dan 8,66%.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, dua negara yang tengah berseteru itu masih menjadi tujuan ekspor terbesar yakni Tiongkok dengan pangsa sebesar 15,14%, atau senilai US$18,52 miliar dan AS yang menjadi pangsa pasar sebesar 10,79% dengan total US$13,20 miliar.

"Kebijakan proteksionisme yang diterapkan dua negara itu, walaupun tidak langsung kepada Indonesia, tetapi akan memberikan dampak pada akhirnya," ujar Bhima kepada Media Indonesia, Senin (15/10).

Ia memprediksi, kondisi tersebut akan terus berlangsung hingga akhir tahun ini. Defisit neraca perdagangan juga akan terjadi lantaran pada akhir tahun permintaan barang konsumsi yang bersifat musiman akan melonjak.

"Dunia usaha pasti akan mempersiapkan faktor natal tahun baru dimana ada beberapa permintaan musiman yang naik," ucapnya.

Adapun, beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menahan pelebaran defisit neraca perdagangan adalah dengan menghapus PPN ekspor jasa 10% menjadi 0% terutama pada jasa profesional teknologi informasi dan pariwisata.

"Itu akan membantu masuknya devisa dari sektor jasa yang lebih besar. Sejauh ini, 88 negara dari 120 negara di dunia, sudah menerapkan tarif ekspor jasa 0%. Kalau tidak segera menyesuaikan, kita akan kehilangan peluang," tandasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya