Ma’ruf Minta Konglomerasi Bermitra dengan UMKM Kurangi Kesenjangan

Micom
12/10/2018 09:15
Ma’ruf Minta Konglomerasi Bermitra dengan UMKM Kurangi Kesenjangan
(Ist)

PENGGAGAS arus baru ekonomi Indonesia KH Ma’ruf Amin mengajak para pengusaha besar nasional (konglomerasi) untuk bermitra dengan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta pelaku usaha pemula (start-up) di Indonesia.

Kemitraan ini perlu terus dilakukan guna memperpendek jarak kesenjangan (distorsi) antara pelaku usaha yang kuat dan pelaku usaha yang lemah seperti UMKM dan pengusaha pemula.

“Arus Ekonomi Baru yang kami gagas ini untuk menggantikan arus ekonomi lama yang hanya menciptakan konglomerasi. Ini bukan bertujuan melemahkan konglomerat tapi mendorong para konglomerasi ini untuk bermitra dengan para UMKM yang masih lemah ini supaya mereka menjadi kuat," kata Ma’ruf dalam acara gala dinner yang diadakan Simac dan Akurindo di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10) malam.

Menurut Ma’ruf, kemitraan yang sedang dibangun yakni kemitraan antara para pengusaha besar dan para usahawan muda di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia atau Santri Milenial Center (Simac).

“Kehadiran Simac diharapkan mampu menciptakan keseimbangan ekonomi dan bisa mengurangi kesenjangan antara pusat dan daerah, antara pengusaha yang kuat dan yang lemah, bahkan antara penduduk nasional dan penduduk global. Para pelaku ekonomi umat ini harus dimitrakan supaya menjadi kuat semuanya,”ujar Ma’ruf yang juga menjadi calon Wakil Presiden, pasangan petahana Joko Widodo, ini.

Ia memilih pesantren sebagai pusat penggerak Arus Ekonomi Baru Indonesia karena potensi kalangan santri terutama para santri milenial ini sangat besar untuk menjadi usahawan baru yang modern.

“Mereka selama ini belum tersentuh untuk menjadi wirausaha baik di bidang keuangan, budi daya pertanian dan perkebunan, budi daya kelautan, sektor rill dan sektor jasa. Apabila upaya kemitraan ini bisa kita wujudkan maka kita akan mencapai perubahan besar di sektor ekonomi,”ujar Ma’ruf.

Selain mendorong kemitraan, lanjut Rais Aam PBNU ini, pihaknya mendukung upaya redistribusi aset nasional terutama tanah. Saat ini, kata dia, jumlah aset negara atau tanah yang belum dibagikan oleh pemerintah mencapai 12,7 juta hektare.

Aset ini akan dibagikan kepada koperasi-koperasi dan pesantren-pesantren di mana santri milenial juga akan memperoleh kesempatan mengembangkan aset ini seperti melakukan penanaman komoditi dan dibeli oleh konglomerat yang menjadi mitra untuk diproduksi dalam negeri menjadi produk bernilai jual tinggi.

“Misalnya cokelat di Sulawesi Selatan harganya Rp1.000, diiekspor ke Singapura, diolah dan dijual kembali dengan harga Rp20.000. Kalau diolah dalam negeri, mestinya nilai tambah sebesar Rp19.000 itu bisa dinikmati oleh petani dan UMKM kita. Nah, yang seperti ini butuh kemitraan yang baik,”ungkap Ma'ruf.

Hal senada juga disampaikan Nur Rohman, Ketua Umum Simac. Menurut Rohman, gerakan Arus Baru Ekonomi Indonesia dan keberadaan Simac akan menciptakan usahawan dengan keterampilan tinggi di berbagai sektor ekonomi.

“Santri ini menjadi satu potensi nasional, sehingga perlu ditopang SDM-nya dan perlu ada pendidikan vokasi di pesantren. Mereka juga harus diberikan motivasi untuk mampu bersaing dengan global,” ujarnya.

Untuk itu, Simac dan Asosiasi Kelompok Usaha Rakyat Indonesia (Akurindo) akan menjalin kemitraan dengan para pengusaha besar nasional serta instansi terkait lainnya untuk merealisasikan konsep Arus Baru Ekonomi Indonesia ini.

Gagasan Arus Baru Ekonomi Indonesia saat ini tidak hanya wacana, tapi merupakan kerja nyata. Hal ini bisa dilihat dari animo pesantren serta para santri yang merespons ide ini.

"Pesantren tidak lagi hanya sebatas institusi pendidikan namun harus ikut berperan dalam mecetak generasi-generasi emas di dunia kewirausahaan,” kata Gus Syauqi, Ketua Dewan Pembina Simac.

Menurut dia, terobosan yang dilakukan Simac ini akan melahirkan para Gus Iwan di seluruh Indonesia. Gus Iwan merupakan singkatan dari Santri Bagus, Rupawan, Seneng Ngaji, dan Wirausahawan. Pihaknya menargetkan mencetak sejuta Gus Iwan di seluruh Indonesia.

“Gus Iwan ini merupakan sosok pemuda zaman now, pemuda milenial yang punya jiwa patriotisme dan kemandirian dalam usaha. Indonesia akan menuju era keemasan dan akan dimotori oleh anak-anak muda yang terpanggil jiwa raganya demi bangsa Indonesia,”ujar putra Kiai Ma’ruf ini.

Guna mencetak para Gus Iwan yang modern dan berdaya saing, Simac akan melakukan pendidikan dan latihan di dalam dan luar negeri seperti mengirim para santri usahawan untuk belajar dan mengikuti pelatihan di Australia.

“Kami berharap setelah mereka kembali, akan menjadi usahawan yang mendiri dan sukses sehingga bisa berkontribusi terhadap ekonomi bangsa,” ungkap pria yang akrab disapa Oqi ini.

Langkah nyata implementasi Arus Baru Ekonomi bagi pelaku usaha rakyat Indonesia khususnya petani, nelayan, dan UMKM dilakukan Parade Ekonomi Kerakyatan. Simac dan Akurinso akan menyelenggarakan parade ini di 10 titik kegiatan di seluruh Indonesia.

Salah satunya Parade Ekonomi Kerakyatan ini ialah Pameran Pelaku Ekonomi Kerakyatan MSP Expo Amazing Bali 2018 pada 10-14 Oktober 2018 di Lapangan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar.

Sekitar 300 lebih pelaku UMKM terbaik nasional terlibat pada pameran dengan tema 'Amazing Bali' ini. Mereka akan memamerkan aneka produk dengan potensi ekspor dari Bali dan seluruh Indonesia, mulai dari kuliner, fasyen, serta kerajinan.

Febri Wibawa Parsa, Sekjen Akurindo, mengatakan, pada parade ini selain diisi dengan kegiatan pameran juga sosialisasi terkait konsep Arus baru Ekonomi dan keberadaan Gus Iwan. Nantinya, Gus Iwan akan mengeluarkan kartu dengan tiga manfaat atau fungsi yakni sebagai kartu anggota, sistem pembayaran elektronik (e-money), dan fungsi asuransi.

“Kami akan mempermudah para pemegang kartu Gus Iwan untuk asses modal, pemasaran, dan promosi digital serta perlindungan usaha. Jadi nanti para santri usahawan ini tak perlu risau akan gagal usaha karena usaha mereka akan dilindungi asuransi dari kemungkinan gagal usaha dan gagal bayar,” ujar Febri. (RO/OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya