MEMILIKI rasa percaya diri tinggi atau narsisistik ternyata dibutuhkan untuk membantu Anda mencapai puncak karier. Namun, setelah berada di puncak, Anda justru harus menonjolkan sikap rendah hati untuk mempertahankan posisi Anda.
Berdasarkan hasil penelitian yang dirilis Brigham Young University's Marriot School of Management, karyawan cenderung lebih menghormati seorang pemimpin eksekutif yang memiliki sikap kepercayaan diri tinggi dalam menunjukkan visi mereka, kemampuan mengakui kesalahan atau keterbatasan, dan pandai menghargai kontribusi anggota timnya.
Sifat lain yang sama pentingnya untuk mencapai puncak kesuksesan, ternyata narsisistik. Inilah yang menjadi kunci kesuksesan Steve Jobs dalam mengomunikasikan visinya untuk menjadikan Iphone sebagai produk paling laris di dunia.
"Sikap narsisistik perlu diimbangi dengan sikap rendah hati untuk menjadikan seorang pemimpin disegani," ungkap Brdley P Owens, asisten profesor bidang studi etika bisnis Brigham Young University's Marriot School of Management, kepada Huffington Post, Kamis (27/3).
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Psychology menemukan karyawan cenderung menyukai pemimpin yang narsisistik dan sekaligus rendah hati. Penelitian dilakukan dengan menyurvei 876 karyawan di seluruh perusahaan yang masuk kategori Fortune 100 Health Insurance Company.
Para karyawan dimintai pendapat tentang kualitas performa 138 pemimpin di perusahaan-perusahaan tersebut berdasarkan aspek kerendah-hatian, efektivitas, dan kemampuan memotivasi karyawan.
Penelitian juga dilakukan dengan meminta para pemimpin mendeskripsikan diri mereka dengan memilih salah satu statement berikut ini: 'Saya seorang yang luar biasa' atau 'Saya seperti orang lain pada umumnya'. Pilihan yang diambil akan menentukan apakah dia cenderung narsisisistik atau rendah hati.
"Pemimpin yang memiliki skor performa terbaik ternyata ialah mereka yang cenderung narsisistik, tapi juga rendah hati," ungkap Owen.
Steve Jobs memang satu contoh nyata pemimpin yang mampu mengaplikasikan kombinasi sikap narsisistik dan rendah hati. Dalam buku Becoming Steve Jobs yang ditulis oleh Brent Schlender dan Rick Tetzeli, Steve Jobs pernah dikenal sebagai pemimpin yang narsisistik, sangat keras, dan menuntut banyak dari karyawannya. Hal itu yang membuatnya sempat dipecat dari Apple pada 1985.
Namun, satu dekade kemudian, tepatnya pada 1997 Steve Jobs kembali ke Apple sebagai seseorang yang baru. Ia masih terlihat narsisistik dan keras. Namun, pada saat itu Steve Jobs juga menunjukkan sikap rendah hati pada para karyawannya.