Jaga Kurs agar Harga BBM tidak Terus Naik

MI/JESSICA SIHITE
28/3/2015 00:00
Jaga Kurs agar Harga BBM tidak Terus Naik
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
HANYA dalam kurun tiga bulan harga minyak berada di level rendah. Sejak Kamis (26/3), bersamaan dengan hunjaman roket dari jetjet tempur Arab Saudi ke basis Syiah Houthi di Yaman, harga minyak pun naik hingga 6%. Kekhawatiran gangguan distribusi minyak akibat serangan bersandi Decisive Storm itu membuat harga minyak brent di pasar melonjak US$3 menjadi US$60 per barel. Harga minyak light sweet naik US$2 per barel menjadi US$52,2 per barel. Di tengah menggeliatnya harga minyak dunia dan masih tingginya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah (1 dolar AS setara Rp12.950) membuat pemerintah akhirnya menaikkan lagi harga bahan bakar minyak dengan penaikan Rp500 per liter.

Pemerintah memutuskan per 28 Maret 2015 pukul 00.00 WIB, harga premium di wilayah Jawa, Madura, dan Bali (Jamali) yang tadinya Rp6.900 per liter menjadi Rp7.400 per liter. Adapun harga premium di luar Jamali menjadi Rp7.300 per liter. Untuk harga solar, sejak dini hari tadi menjadi Rp6.900 per liter. Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Migas IGN Wiratmaja Puja mengatakan keputusan itu diambil berdasarkan perkembangan harga minyak dunia dan perkembangan nilai tukar rupiah.
"Jika dilihat dari meningkatnya rata-rata harga minyak dunia dan masih berfl uktuasi serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam sebulan terakhir, harga jual eceran BBM perlu dinaikkan," kata Wiratmaja, kemarin.

Kurs dolar AS terhadap rupiah sangat memengaruhi harga BBM di dalam negeri karena 60% kebutuhan BBM Indonesia harus diimpor dengan menggunakan patokan kurs dolar AS. Indonesia menjadi net importir minyak setelah produksi minyak nasional terus turun, hanya sekitar 880 ribu barel per hari, sementara konsumsi BBM terus naik dan telah mencapai 1,5 juta barel per hari. Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang melalui pesan singkat menyebutkan bahwa penghitungan penaikan harga BBM didasarkan pada rata-rata harga Mid Oil Plat’s Singapore (MOPS), yaitu harga minyak rata-rata secara fl at dari Singapura. "Kita ngitungnya dengan rata-rata MOPS mulai 25 Februari hingga 25 Maret." PT Pertamina (persero) sebelumnya mengusulkan agar harga premium dan solar naik di angka Rp8.200 per liter dan Rp7.450 per liter.

Jaga rupiah

Pengamat energi dari Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto menyebutkan ada dua variabel yang memengaruhi harga BBM, yakni harga minyak Indonesia dan kurs rupiah terhadap dolar AS. Bahkan, pelemahan kurs rupiah dinilainya menjadi faktor utama harga BBM. "Kalau harga minyak, paling sedolar-dua dolar saja naiknya. Tapi faktor kurs rupiah bisa membuat naik Rp1.000 per liter," kata Pri Agung saat dihubungi, kemarin. Oleh karena itu, ia menyarankan pemerintah menjaga kurs rupiah pada level 12.500 per dolar AS supaya harga BBM tidak kembali mengalami penaikan pada bulan-bulan mendatang. “Konfl ik antara Yaman dan Arab Saudi tidak akan menjadi faktor penggerak harga BBM merangkak naik.  Yang perlu diwaspadai justru penguatan dolar terhadap mata uang lain, salah satunya rupiah. Kalau di atas 13.000 per dolar AS, meski harga minyak dunia rendah, BBM akan tetap naik.” Penaikan harga BBM selama ini selalu memicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dan barang. Di sisi lain, daya beli sebagian besar masyarakat Indonesia belum sepenuhnya stabil. “Karena itu, pengamanan harga dan kurs rupiah sangat vital,” papar Pri.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya