Ekonom Menilai Pelemahan Rupiah Disebabkan Kondisi Global

Insi Nantika Jelita
08/10/2018 18:13
Ekonom Menilai Pelemahan Rupiah Disebabkan Kondisi Global
(Antara/Galih Pradipta)

WAKIL Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta menjelaskan bagaimana pemerintah bekerja untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah yang saat ini menembus 15 ribu per dolar.

"Pemerintah bersama Bank Sentral punya kebijakan campuran fiskal dan moneter yg dapat meredam gejolak rupiah." ungkap Arif Budimanta dalam Focus Group Discussion yang bertema 'Politik Ekonomi Jokowi: Mencari Ruang Gerak Ditengah Tekanan Perekonomian Global' di Posko Cemara Nomor 19, Jakarta, Senin (8/10).

Arif yang juga mewakili dari Megawati Institute menilai bahwa saat ini tukar mata uang rupiah dibanding negara G-20 lainnya masih lebih baik.

"Dibanding negara-negara G-20 lain soal nilai tukar uang keadaan kita relatif lebih baik. Sampai saat ini depresiasi rupiah sekitar 11-12%, India 15%, turki lebih dari 50% depresiasi nilai tukar,"jelas Arif

Menurut Arif yang terjadi pada september lalu merupakan bentuk deflasi.

"Kalau ada gejolak rupiah maka implikasinya terhadap harga-harga. Tapi, kalau diliat inflasi umum yg terjadi pada September yang lalu itu kan yg terjadi deflasi. Itu artinya pengendalian harga yang dilakukan pemerintah memang memiliki korelasi signifikan terhadap harga itu memang cukup baik," ujar Arif

Kemudian Ia menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah diakibatkan suku bunga The Fed Amerika Serikat.

"Banyak yang bilang terkait nilai tukar ini lebih diakibatkan efek kenaikan suku bunga Bank Sentral AS Federal Reserve. Kenapa? Karena hampir seluruh sistem transaksi antar negara itu pakai dolar. Yang kedua referensinya adalah dolar. Lalu arus modal lebih banyak di dalam dolar," terang Arif

Lanjutnya Arif menerangkan soal dampak kebijakan moneter Amerika berdampak pada keseluruh negara di dunia.

"Jadi apabila ada perubahan yang terkait dengan kebijakan moneter di AS maka transmisi berpengaruh hampir ke seluruh negara-negara di dunia. Jadi ini persoalan dari sisi suku bunga AS," ucap Arif

Kemudian Arif menjelaskan alasan lainnya soal melemahnya mata uang rupiah akibat perang dagang antar Amerika dengan Tiongkok.

"Kebijakan perdagangan yang dilakukan oleh Donald Trump kemudian dibalas lagi juga oleh Tiongkok, lalu Meksiko ikut juga. Kita bicara ini perdagangan dalam konteks global apalagi neraca perdagangan Indonesia itu memang berpengaruh dengan negara-negara yang memiliki hubungan erat," ujar Arif

Lanjutnya Arif mengemukakan alasan melemahnya tukar rupiah karena kenaikan harga minyak dunia.

"Kemudian kita hadapi kenaikan harga minyak dunia. Di Indonesia memang kemudian menimbulkan tekanan secara enggak langsung. Karena dari sisi bahan baku industri kita impor kan juga ada. Tp kan selain impor kita juga produsen minyak itu sendiri. Jadi bagaimana kita untuk menyeimbangkan bumi air dan kekayaan Indonesia ditujukan utk kemakmuran rakyat. Semata mata ini harus dilakukan agar tidak menggerus daya beli," kata Arif. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya