Dolar Capai Rp15.217, Menkeu: Tekanan Global Akan Terus Berlanjut

Fathia Nurul Haq
08/10/2018 17:39
Dolar Capai Rp15.217, Menkeu: Tekanan Global Akan Terus Berlanjut
(Antara/Galih Pradipta)

NILAI tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup Rp15.217 hari ini, Senin (8/10). Angka tersebut merupakan titik terendah nilai tukar garuda sejak krisis 1998 sekaligus menandai era baru perekonomian global dimana dominasi AS akan terus berlanjut.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan hal tersebut ditandai dengan imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun yang selama ini menjadi indikator makroekonomi global hari ini menembus ambang batas toleransi psikologisnya yakni 3%.

"Kalau dulu treshold untuk bond-nya Amerika yang 10 tahun itu adalah 3% jadi waktu mereka mendekati 3%, memunculkan apa yang disebut sebagai reaksi dari seluruh pergerakan terutama nilai tukar dan suku bunga internasional, sekarang sudah di atas 3% dan mereka sudah sampai 3,4%," jelas Sri Mulyani disela acara Annual Meeting IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali.

Rupiah melemah 12,26% dibanding penutupan perdagangan kemarin dan diperkirakan masih akan melemah menyusul manuver perekonomian AS, baik dari sisi moneter maupun fiskal yang sangat agresif. Sri Mulyani menyebutkan masih ada satu kali penyesuaian suku bunga AS Fed Funds Rate (FFR) tahun ini dan tiga kali lagi di tahun 2019 mendatang.

Gerak sejalan Fiskal dan Moneter AS merupakan tantangan maraton yang memerlukan daya adaptasi dan fleksibilitas dari pelaku ekonomi.

"Salah satu indikator yang selalu dilihat sebagai indikasi apakah ekonomi AS akan mengalami oveheating atau tightening adalah suku bunga 10 tahun dari bond dia, yang selama ini juga dijadikan indikator global juga, dan sekarang kita lihat keduanya (suku bunga bond 10 tahun dan FFR) sama-sama bergerak," tambahnya.

Di sisi lain, manuver kebijakan AS yang sudah lebih jelas merupakan keuntungan bagi pemerintah untuk menentukan langkah antisipasi guna memitigasi ancaman yang bisa berdampak buruk bagi perekonomian nasional.

Kendati tidak bisa menghindari pelemahan nilai tukar, menkeu berharap pelaku usaha lebih adaptif dan fleksibel hingga iklim global mencapai ekuilibrium baru pasca manuver AS.

Sementara pihaknya meyakinkan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia akan terus melakukan penyelarasan kebijakan yang responsif.

"Memang mungkin kita harus berhati-hati dalam sisi kecepatannya, namun bahwa fleksibilitas dari nilai tukar itu tidak bisa dihindarkan karena di merupakan bagian dari respons terhadap lingkungan global yang masih akan terus berjalan," tutup Sri Mulyani. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya