Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TEKANAN terhadap rupiah, terutama dari sisi eksternal, diakui cukup berat. Namun, hal itu diyakini segera mereda seiring membaiknya perekonomian global. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS bukan merupakan hal yang mengkhawatirkan karena juga dialami mata uang negara-negara berkembang lain.
BI, kata dia, juga tidak akan berdiam diri dan tetap mestabilkan nilai tukar rupiah di pasar. Perry memastikan salah satu upaya jangka menengah panjang yang bisa dilakukan untuk menahan perlemahan rupiah ialah dengan memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan.
Kata dia, perbaikan neraca transaksi berjalan yang mengalami defisit tidak terlalu krusial dalam keadaan ekonomi normal, tetapi menjadi mendesak dalam keadaan penuh gejolak.
“Ini yang membuat kita tidak bisa dibandingkan dengan Thailand karena mereka mempunyai surplus neraca transaksi berjalan hingga US$54 miliar sehingga mata uangnya relatif stabil,” ujarnya, Rabu (3/10).
Seperti dikutip Antara, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar AS (Jisdor) yang diumumkan BI, kemarin, rupiah melemah 100 poin di level 15.088, melemah dari 14.988 pada Selasa (2/10). Namun, Perry mengingatkan fenomena perlemahan mata uang itu tidak hanya dialami Indonesia, tapi juga negara-negara berkembang lainnya.
Hal tersebut terlihat dari depresiasi mata uang yang terjadi di negara-negara seperti Turki, Brasil, Afrika Selatan, India, dan Filipina, yang memiliki kondisi perekonomian sama seperti Indonesia.
“Tingkat pelemahan rupiah sejak akhir Desember 2017 sampai sekarang 9,82%, bandingkan dengan Turki yang 37,7%, Brasil 17,6%, Afrika Selatan 13,8%, dan India 12,4%,” ujarnya.
Sementara itu, Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada, A Tony Prasetiantono, mengatakan saat ini tidak banyak terjadi perubahan dalam indikator ekonomi global kecuali kenaikan harga minyak dunia. Namun, dia meyakini tahun depan ada harapan tekanan ekonomi eksternal akan berkurang dan kemungkinan defisit transaksi berjalan (CAD) turun di bawah 3%.
“Dengan begitu, Indonesia punya ruang bergerak untuk rupiah yang reasonable,” ujarnya. (Try/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved