Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam hitungan hari, Indonesia akan kembali merayakan Hari Batik Nasional. Tepatnya, pada 2 Oktober. Sejak 2009, tanggal tersebut memang menjadi momentum selebrasi atas ditetapkannya batik sebagai warisan budaya lisan dan nonbendawi oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Budaya (UNESCO).
Predikat batik sebagai warisan budaya Indonesia semakin lengkap sejak disematkannya prediket Kota Batik Dunia kepada Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council) sejak 2014 silam. Dalam memperingati dua momen bersejarah itu, Yogyakarta pun akan kembali menghelat ajang dua tahunan Jogja International Batik Biennale (JIBB) tahun ini, mulai 2 Oktober hingga 6 Oktober mendatang.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY GKR Hemas mengatakan ajang yang direncanakan dibuka oleh Presiden Joko Widodo tersebut dapat menjadi medium bagi masyarakat untuk mengenal varian dan motif batik. "Kami telah road show ke bebe-rapa sentra batik di Indonesia seperti Cirebon, Madura, Lasem, dan Pekalongan untuk ikut meme-riahkan dan mengajak mereka agar batik di mata dunia semakin dikenal sebagai warisan budaya Indonesia," kata dia di Jakarta, Rabu (26/9).
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY Trisaktiyana menambahkan, bagi perajin, ajang semacam JIBB bisa menjadi sarana menciptakan inovasi dalam membatik. Ia mencontohkan, di Madura saat ini, ada batik tulis dengan harga terjangkau sehingga menghapus stigma soal mahalnya batik tulis. "Harusnya inovasi tersebut ditularkan," ucapnya.
Sebelumnya, Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan nilai perdagangan produk pakaian jadi dunia yang mencapai lebih dari US$400 miliar akan menjadi peluang besar bagi batik Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya. "Saat ini Indonesia menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia, persaingan dengan Malaysia, Ti-ongkok, dan Singapura yang juga memproduksi batik perlu kita waspadai agar tidak menggeser posisi daya saing batik nasional," terang Gati, beberapa waktu lalu.
Catatan Kemenperin, nilai eks-por batik dan produk batik sampai 2017 mencapai US$58,5 juta dengan pasar utama Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.
Dampak kurs
Gonjang-ganjing nilai tukar valas belakangan ini ternyata berimpak kepada para perajin batik. Sejumlah perajin batik di Kota Solo mengeluhkan turunnya produktivitas lantaran kenaikan harga bahan baku impor.
Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan Surakarta Alpha Febela Priyatmono mengatakan kinerja produktivitas kerajinan batik, khususnya di Kampung Laweyan, turun sekitar 30%.
"Batik itu konten impornya masih tinggi. Bahan pewarna banyak diimpor dari India, sebagian lagi dari Tiongkok. Bahkan untuk kain yang digunakan, 90% masih impor dari Tiongkok," jelasnya.
Sisi positifnya, untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor, perajin batik kini bersemangat memproduksi batik berbahan baku alam.
Kurator batik solo Gunawan Kurnia Pribadi menilai seharusnya penguatan dolar AS dimanfaatkan pengusaha batik untuk memacu ekspor. (Ant/S-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved