Peternak Terimpit Kekurangan Jagung

Andhka Prasetya
26/9/2018 03:00
Peternak Terimpit Kekurangan Jagung
(ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

BURUKNYA distribusi alat mesin pertanian (alsintan) jenis ­pengering jagung memperparah kondisi kekurangan stok pakan jagung yang dialami para peternak.

Menurut Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), jagung yang dikeringkan dengan mesin pengering memiliki kualitas lebih baik dan bisa disimpan lebih lama.

“Tanpa mesin pengering, kadar air bisa lebih dari 17%. Dengan mesin pengering, kadar air bisa hanya 14%. Tapi pada kenyataannya mesin pengering masih jarang ditemui di desa-desa penghasil jagung,” kata peneliti CIPS Imelda Freddy dalam keterangannya, kemarin.
CIPS juga menilai bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) salah menerapkan cara penghitungan proyeksi produksi jagung.

Selama ini, pemerintah menghitung proyeksi produksi hanya didasarkan pada potensi benih jagung yang dikalikan luas lahan. Adapun variabel lainnya seperti potensi panen yang tidak memenuhi standar dan kehilangan produksi saat proses distribusi atau pengangkutan tidak dipertimbangkan.

Variabel eksternal seperti cuaca, sistem irigasi, dan juga serangan hama juga tidak disertakan ke dalam penghitungan.

Kesalahan metode penghitungan pada akhirnya membuat pemerintah tidak memiliki data yang valid terkait dengan persediaan jagung di dalam negeri. Lebih lanjut, hal itu membuat pasar tidak siap mengalami kekurangan stok yang kemudian membuat harga melambung tinggi.
Di lapangan, kondisi yang terjadi saat ini ialah pelaku usaha ternak mengaku harus berebut jagung karena stok di pabrik mengalami kekurangan.

Dengan stok yang minim, sementara permintaan tetap stabil mencapai 8,5 juta per tahun atau sekitar 700 ribu per bulan, harga pun mengalami lonjakan tajam. Kondisi itu juga membuat produsen pakan ternak mengimpor gandum untuk menyubsitusi kekurangan stok jagung.
Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Singgih Januratmoko mengungkapkan saat ini harga jagung di pabrik mencapai Rp5.200 per kilogram (kg). Angka itu jauh di atas harga acuan yang ditetapkan pemerintah yakni Rp4.000 per kg.

“Kondisi ini membuat kami harus berebut jagung. Peternak semua berebut,” ujar Singgih, Selasa (25/9).

Ia pun menyebutkan bahwa hal yang terjadi ini merupakan siklus tahunan yang selalu terulang.

Para pelaku usaha ternak kini tidak hanya dipusingkan kenaikan harga pakan, tetapi juga merosotnya harga jual ayam.

Harga ayam di peternak, papar Singgih, kini hanya Rp13.000 per kilogram, berada di bawah harga ideal Rp18.000 per kg.

“Ini tidak masuk dengan harga pakan. Pemerintah mau harga ayam murah, tapi harga pakan tinggi,” ujarnya.

Sulit mengawasi
Di sisi lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melimpahkan kesalahan kepada pemerintah daerah terkait dengantidak meratanya progam bagi-bagi alsintan kepada kelompok tani.

“Pemberian alsintan itu dilakukan dinas di daerah, bukan Kementerian Pertanian. Spesifikasinya itu dilampirkan oleh kabupaten setelah kelompok tani memberikan daftar kebutuhan mereka,” ujar Amran.

Ia mengatakan pemerintah hanya melakukan pengawasan dari pusat terkait dengan proses distribusi.

Ia pun mengaku pihaknya tidak sanggup mengawasi seluruh kelompok tani yang jumlahnya mencapai ratusan ribu di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam penerapan kebijakan, Amran mengatakan pihaknya sudah menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mencegah adanya penyalahgunaan anggaran. (E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya