Gandum Impor untuk Tutup Kekurangan Jagung

Andhika Prasetya
24/9/2018 23:45
Gandum Impor untuk Tutup Kekurangan Jagung
(ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

PENGETATAN terhadap penggunaan jagung impor untuk keperluan pakan membuahkan hasil pada melonjaknya impor gandum.Dengan jumlah produksi jagung dalam negeri yang tidak bisa memenuhi kebutuhan pakan ternak, pilihan impor gandum sebagai bahan substitusi merupakan pilihan yang tidak terelakan.

Ketua Komite Tetap Keta­hanan Pangan Kadin Indonesia Franciscus Welirang menyatakan impor gandum diperuntukkan keperluan bahan baku pakan pada tahun lalu 3 juta ton. Begitu pun tahun ini.

Wakil Ketua Komite Tetap Bidang Industri Pakan dan Veteriner Kadin Indonesia Sudirman mengungkapkan industri pakan per tahun membutuhkan 8,5 juta ton jagung. Namun, tahun lalu, industri hanya menyerap 5 juta ton dari petani karena stok terbatas.

Hal itu bertolak belakang dengan klaim yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) bahwa hasil panen jagung akan mencapai 30 juta ton. Itu jauh berada di atas angka kebutuhan yang hanya berkisar 20 juta ton, baik untuk pangan dan pakan.

“Dulu komposisi jagung untuk pakan itu 50%. Sekarang sudah di bawah itu. Padahal, ja­gung ialah sumber energi yang baik,” kata Sudirman kepada Media Indonesia, Senin (24/9).

Indikasi tidak tersedianya jagung di pasaran juga tampak dari harganya yang terus meningkat. Rata-rata harga pakan di level pabrik sudah mencapai Rp5.300 per kilogram (kg) karena harga di level petani juga sudah di atas Rp4.000 per kg.

Menurutnya, angka itu sudah jauh tinggi meninggalkan harga acuan yang ditetapkan, Rp3.150 per kg di level petani dan Rp4.000 per kg di pabrik. “Kalau produksi bagus, pasti banyak persediaan. Tapi sekarang ada di mana jagungnya? Harga tidak akan bohong. Kalau stok banyak, harga pasti tidak setinggi ini,” ujarnya.

Kementerian Pertanian Ame­rika Serikat pernah melakukan kajian dan merilis total produksi jagung di Indonesia hanya 10,5 juta ton per tahun Dinas Pertanian dan Keta­hanan Pangan (Dintan KP) Banyumas, Jawa Tengah, meng­akui produksi jagung di daerahnya selalu terserap habis oleh peternak. Pihaknya kesulitan memperluas area penamaman jagung guna memenuhi permintaan yang berlebih.

Di Kabupaten Manggarai Barat, harga jagung terus melon­jak naik akibat gagal panen imbas kemarau panjang.

Salahkan pengusaha
Kementerian Pertanian mengklaim harga jagung di tingkat petani masih relatif rendah. Harga jagung masih dalam kondisi yang bisa ditoleransi. “Sekarang, harga jagung yang masih berupa pipilan kering hanya di Rp4.100 per kilogram di petani. Itu masih normal,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Agung Hendriadi di Menara Kadin.

Bergerak naiknya harga jagung di level petani otomatis membuat harga jagung di tingkat pabrik juga melambung. Kini, harga jagung di pengusaha pakan sudah mencapai Rp5.300 per kg. Setelah melihat kondisi itu, Agung menuduh kenaikan harga di tingkat pabrik terjadi karena ada pihak pengusaha yang memainkan harga hingga akhirnya tinggi seperti saat ini.

“Kebutuhan untuk pakan sudah kami penuhi semua,” tandasnya. (E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya