Hati-Hati dengan Data Produksi Beras

(Pra/E-1)
24/9/2018 23:00
Hati-Hati dengan Data Produksi Beras
(ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

INDONESIA bisa dilanda krisis beras jika pemerintah terlalu percaya dengan iming-iming swasembada dan peningkatan produksi.

Pengamat pertanian Husein Sawit mengatakan kenyataan di lapangan, hasil panen lokal tidak sebesar yang digembar-gemborkan Kementerian Pertanian (Kementan) selaku wakil pemerintah yang bertanggung jawab atas kinerja produksi.

Di sisi hulu, harga gabah kering panen sudah melambung tinggi melebihi Rp5.000 per kilogram (kg). Tingginya harga GKP merupakan cerminan minimnya stok di lapang-an sehingga terjadi perebutan gabah di tingkat penggilingan.

Kondisi itu diyakini akan terus berlanjut hingga akhir tahun lantaran musim kemarau yang tidak kunjung usai sehingga produksi menurun.

“Kementan terus mengklaim produksi surplus. Data ini yang sejak lama bermasalah,” ujar Husein di Menara Kadin, Jakarta, Senin (24/9).

Husein mengingatkan hal itu pernah terjadi di era 1970-an. Saat itu pemerintah terbuai dengan angka produksi yang pada akhirnya membuat pemerintah tidak sigap untuk mengantisipasi kekurangan stok beras. Ketika harga sudah telanjur naik, stok komoditas pangan utama itu masih minim karena tidak ada persediaan alternatif berupa impor.

“Itu yang membuat terjadi krisis beras. Itu sudah pernah terjadi pada 1970-an. Ketika itu  pemerintah terlalu optimistis akan angka produksi,” tandasnya.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso meminta seluruh pihak, dari pemerintah hingga para pelaku usaha yang terkait dengan sektor pertanian dapat bersinergi untuk menyuguhkan data yang valid dan akurat.

“Sekarang kita tidak punya data yang pasti. Produksi riil perberasan kita itu gimana? Produksi dua bulan lalu itu, sekarang berasnya ada di mana? Apa ada di pedagang? Apa sudah ada di rumah tangga? Atau malah masih di petani? Kita tidak tahu itu semua,” ujar Budi Waseso.

Di sisi lain, Kepala Badan Ke-tahanan Pangan Agung Hendriadi berkeras produksi beras masih akan tinggi hingga awal tahun mendatang.

Ia mengklaim produksi pada September akan mencapai 3,2 juta ton. Berlanjut ke Oktober dan November per bulan 2,8 juta ton. Bahkan, pada Desember dan Januari diproyeksikan lebih besar lagi. (Pra/E-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya