Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) diminta menghentikan bualan terkait produksi bahan-bahan pangan utama yang diklaim surplus. Setelah sebelumnya dianggap melebih-lebihkan angka produksi beras, kini jumlah produksi jagung juga kian dipertanyakan.
Pada tahun ini, Kementan mengklaim hasil panen jagung akan mencapai 30 juta ton. Jauh berada di atas angka kebutuhan yang hanya berkisar 20 juta ton, baik untuk pangan dan pakan.
Namun, pada kenyataannya, di lapangan, persediaan jagung menipis. Pelaku usaha ternak kesulitan mendapatkan pakan sebagai bahan baku usaha ternak karena harga melambung tinggi.
Wakil Ketua Komite Tetap Bidang Industri Pakan dan Veteriner Kadin Indonesia Sudirman mengungkapkan, rata-rata harga pakan di level pabrik sudah mencapai Rp5.300 per kilogram (kg) karena harga di level petani juga sudah di atas Rp4.000 per kg.
Menurutnya, angka itu sudah jauh tinggi meninggalkan harga acuan yang ditetapkan yakni Rp3.150 per kg di level petani dan Rp4.000 per kg di pabrik.
"Kalau produksi bagus, pasti banyak persediaan. Tapi sekarang ada dimana jagungnya? Pemerintah mesti realistis. Tidak bisa terus menerus membesar-besarkan angka karena pada akhirnya semua akan terbuka. Harga tidak akan bohong. Kalau stok banyak, harga pasti tidak setinggi ini," ujar Sudirman kepada Media Indonesia, Senin (24/9).
Ia mengungkapkan, sudah dua tahun terakhir, pemerintah melakukan pengetatan terhadap penggunaan jagung impor untuk keperluan pakan. Padahal, industri pertanian dalam negeri belum mampu mencapai swasembada dan memenuhi kebutuhan para pelaku usaha.
Setidaknya, industri pakan per tahun membutuhkan 8,5 juta ton jagung sebagai salah satu komposisi utama produksi pakan ternak. Namun, terang Sudirman, pada tahun lalu, industri hanya menyerap 5 juta ton dari petani karena stok yang terbatas.
Pada akhirnya, pengusaha harus mencari substitusi, baik berupa hasil olahan gandum maupun wheat.
"Dulu komposisi jagung untuk pakan itu 50%. Sekarang sudah di bawah itu. Padahal jagung adalah sumber energi yang baik. Sekarang malah dicampur CPO, bisa sampai 5% dari sebelumnya hanya 2%. Pabrik pun harus membeli bahan tambahan lain seperti vitamin dan lain-lain supaya kualitasnya sama dengan dulu," jelasnya.
Pada kesempatan berbeda, Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Franciscus Welirang menyatakan impor gandum untuk keperluan bahan baku pakan pada tahun lalu sebesar 3 juta ton. Begitu pun pada tahun ini.
Jika merujuk pada data yang diutarakan Sudirman yang menyebutkan serapan jagung oleh pabrik hanya 5 juta ton, kemudian ditambah hasil olahan gandum sebesar 3 juta ton, maka ditemukan angka sebesar 8 juta ton. Jika gandum itu digunakan sebagai substitusi, maka ditemukan kecocokan yang mendekati angka kebutuhan 8,5 juta ton. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved