Cadangan Gas Bumi Teluk Bintuni Capai 23,7 Triliun Kaki Kubik

Gana Buana
24/9/2018 17:25
Cadangan Gas Bumi Teluk Bintuni Capai 23,7 Triliun Kaki Kubik
(. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

PEMERINTAH memastikan Teluk Bintuni, Papua Barat memiliki prospek besar untuk dijadikan sebagai wilyah industri. Sebab, di teluk tersebut terdapat cadangan gas bumi mencapai 23,7 triliun kaki kubik (TCF).

“Di wilayah tersebut terkadang sumber daya alam yang potensial. Pabrik petrokimia yang akan berada di kawasan industri Teluk Bintuni nanti menjadi salah satu sumber penghasilan daerah tersebut dan menjadi anchor pertumbuhan pabrik-pabrik downstream lainnya,” ungkap Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto pada acara Market Sounding Pengembangan Kawasan Industri Petrokimia di Teluk Bintuni, di Jakarta, Senin (24/9).

Airlangga menyampaikan, Kawasan industri Teluk Bintuni difokuskan untuk pengembangan industri petrokimia. Apalagi, proyek ini merupakan proyek strategis nasional. Karena itu, guna mendorong percepatan pembangunan tersebut, pemerintah melakukan skema kerja sama dengan Badan Usaha (KPBU) atau lazim disebut Public Private Partnership (PPP).

Menurut Airlangga, dengan market sounding pemerintah melakukan sosialisasi sekaligus menarik investor terkait akselerasi pembangunan kawasan industri Teluk Bintuni. Kegiatan ini dihadiri 180 orang, terdiri dari instansi pemerintah, pelaku usaha, perwakilan negara sahabat, asosiasi, kontraktor, perbankan, dan stakeholder lainnya.

“Jadi kawasan industri ini nanti berperan penting untuk memajukan industri di Indonesia, termasuk juga memperdalam struktur manufakturnya,” ujar Airlangga.

Pembangunan kawasan industri Teluk Bintuni ini sejalan pula dengan program prioritas pemerintah dalam memacu pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan industri di luar Jawa sehingga terjadi pemerataan ekonomi yang inklusif. Oleh karena itu, lanjutnya, pemilihan pabrik yang akan menjadi anchor ini menjadi penting. Berdasarkan analisis supply dan demand, metanol merupakan produk yang layak untuk dijadikan sebagai anchor industry tahap pertama.

Rencana pengembangan awal kawasan industri Teluk Bintuni adalah seluas 50 hektare (Ha) dari 200 Ha lahan yang akan dibebaskan. Dari luas 50 Ha tersebut, bakal dikembangkan anchor industry berupa pabrik metanol dengan dukungan komitmen ketersediaan gas oleh BP Tangguh Tahap I sebesar 90 MMSCFD di tahun 2021 dan Tahap II sebesar 90 MMSCFD di tahun 2026.

Sisa cadangan lahan dapat digunakan untuk tahap III sebesar 176 MMSCFD dari Genting Oil dan potensi industri lain yang bisa dikembangkan. Nilai total CAPEX pengembangan kawasan industri tersebut diperkirakan sebesar Rp1,7 triliun.

Kebutuhan metanol di Indonesia pada tahun 2021 diprediksi mencapai 871.000 ton, sedangkan saat ini pasokan hanya dari produksi PT. Kaltim Methanol Indonesia sebesar 330.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik.

“Selain mengenai kebutuhan dalam negeri, pemilihan metanol sebagai anchor industry juga mempertimbangkan potensi metanol untuk dijadikan sebagai produk turunan seperti polietilen atau polipropilen, dimetil eter (DME), methyl tertiary butyl ether (MTBE) dan lain-lain,” tandas dia. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya