HANTAMAN roket yang dijatuhkan jet-jet tempur Arab Saudi ke basis Syiah Houthi di wilayah Yaman memantik kenaikan harga minyak dunia hampir 6%, kemarin. Harga minyak brent di pasar dunia melonjak dari US$3 menjadi US$60 per barel. Kenaikan US$2 per barel juga dialami minyak mentah AS sehingga harganya merangkak menembus US$52,24 (lihat grafik). Serangan Saudi dan sekutunya bersandi Decisive Storm itu dikeluhkan sejumlah negara importir karena mengganggu jalur pengiriman mi nyak dari Timur Tengah dan se lanjutnya menimbulkan lon jakan harga emas hitam tersebut. Memang pasukan koalisi Negara Teluk hanya menggempur kelompok Syiah Houthi. Namun, bukan tidak mungkin serangan itu menuai balasan dari Iran seteru Saudi yang selama ini menyokong penuh Syiah Houthi.
Saat menanggapi operasi militer Saudi ke Yaman tersebut, Dirjen Migas IGN Wiratmaja Puja mengatakan tidak berpengaruh terhadap harga BBM di dalam negeri dalam waktu dekat. "Fluktuasi harga terjadi setiap hari. Ada yang naik sedolar, tetapi ada juga yang turun. Kalau Saudi berkonflik dengan Kuwait atau Irak, itu baru meme ngaruhi," kata Wiratmaja. Kepala Unit Pengendalian Ki nerja Kementerian ESDM Wi dhyawan Prawiraatmadja menambahkan faktor geopolitik hanya menjadi pemicu psikologis yang berdampak pada fluktuasi harga minyak. "Faktor fundamentalnya ialah suplai dan permintaan. Kini suplai minyak di Indonesia masih over, yakni 1,5 juta-2 juta barel per hari. Saya tidak melihat itu akan menciptakan supply disruption. Jangan lupa kita memasuki summer yang membuat turunnya konsumsi minyak," ujar Widhyawan. Apabila akhirnya harga minyak juga naik, menurut Menteri ESDM Sudirman Said, pemerintah tidak akan melepas harga BBM kepada mekanisme pasar. Pemerintah tetap mengacu Perpres No 191/2014 tentang Harga BBM, yakni perubahan harga dilakukan sebulan sekali. "Harga BBM mengikuti fl uktuasi harga du nia, tetapi tidak berarti mengikuti mekanisme pasar," ungkap Sudirman.
Bursa melemah Pengamat energi dari Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengakui, jika konflik terjadi berkepanjangan, harga minyak dunia bakal merambat naik di luar perkiraan. "Butuh dua tiga tahun kalau normal. Namun, saat krisis atau perang berkepanjangan (kenaikan harga) bisa lebih cepat." Menurut Komaidi, Saudi kini menghasilkan 15% minyak dari total konsumsi dunia atau sekitar 14 juta barel. Apabila di tambah dengan produksi Yaman, total produksi kedua negara mencapai 18% dari kon sumsi dunia. Serangan militer Saudi terhadap kelompok Syiah Houthi kemarin juga menggoyang lantai bursa saham di Eropa, Timur Tengah, dan Asia.
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 89,66 poin (0,51%) di posisi 17.628,88, sedangkan indeks Nasdaq Composite turun 43,93 poin (0.90%) pada 4.832,59. Di Asia Pasifik, indeks bursa melemah 0,8%. Ada pun indeks Nikkei menurun paling parah 1,6% sejak pertengahan Januari lalu. Sementara itu, indeks di Bur sa Efek Indonesia melemah 36,68 poin menjadi 5.368,80 poin karena aksi ambil untung. "Intervensi Saudi tidak meng ancam pasokan minyak dunia," tandas Direktur Perdagangan Guardian Stockbrokers London, Atif Latif. (Jes/Hym/Pra/ABC/AP/X-4)