Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
WONDERFUL Indonesia Culinary and Shopping Festival (WICSF) kembali digelar. Acara yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) akan berlangsung pada 27 September sampai 27 Oktober.
Ketua Umum DPP APPBI Stefanus Ridwan S mengatakan, bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah mal peserta WICSF terus meningkat dari 85 mal pada 2015, 104 mal pada 2017, dan tahun ini mencapai 150 mal di 20 provinsi. Aneka produk dan kuliner yang ditampilkan juga makin beragam.
"Akan ada banyak produk-produk usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) yang dipilih sesuai standar masing-masing mal. Selain berkualitas, tentunya juga harus unik dan khas karena kalau enggak unik-unik banget susah jualnya," ujar Stefanus saat jumpa pers WICSF 2018 di Jakarta, pada Rabu (19/9).
Apalagi, menurutnya, sebagian mal yang ikut serta dalam ajang WICSF tahun ini menyasar kalangan menengah ke atas. Sebut saja, Plaza Indonesia di Jakarta, yang kerap menjadi magnet pusat perbelanjaan bagi wisatawan mancanegara (wisman).
Aneka kuliner serta ragam produk UMKM yang ditampilkan benar-benar dipilih secara spesifik agar dapat menarik minat wisatawan. Seperti halnya kuliner rendang dan nasi goreng yang telah mendunia, rata-rata wisman juga lebih menyukai produk Indonesia yang autentik.
"Target kita tahun ini bisa mendatangkan 10%-20% wisman ke Indonesia, khususnya Bali, tempat acara pembukaan WICSF 2018 berlangsung. Sementara itu, untuk transaksi diharapkan naik 80% dari sebelumnya Rp1,3 triliun setiap mal selama penyelenggaraan," papar dia.
Tax refund
Menteri Pariwisata Arief Yahya pun menargetkan, setidaknya melalui acara WICSF, kuliner Indonesia serta produk-produk UMKM dalam negeri makin dikenal di mancanegara. Apalagi, dengan meningkatnya jumlah transaksi dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
"Untuk wisnus tidak ada masalah. Namun, persoalannya, Indonesia belum dikenal sebagai surganya belanja bagi para wisman," ucap Arief.
Ia mencontohkan, salah satu kendala yang masih sering kali dihadapi para wisman ketika berbelanja di Indonesia ialah masalah klaim pengembalian pajak (tax refund). Laporan Kementerian Keuangan menyebutkan, jumlah wisman yang melakukan klaim belanja sebanyak 1.000 per tahun.
Meski terbilang kecil, menurut Arief, angka itu didapat karena di Indonesia untuk bisa melakukan klaim relatif sulit. Berbeda dengan di Singapura yang memiliki banyak media penyaluran klaim sehingga memudahkan para turis asing yang ingin melakukan klaim.
"Di Singapura, boleh dikatakan kita mau klaim di mana saja bisa. Bayangkan kalau ada satu juta orang Indonesia yang ke Singapura, 20%-nya belanja, itu bisa berapa yang mereka terima," cetus Menpar.
Begitupun dari sisi pengembalian pajak (tax refund), Kalau di Singapura pengembalian pajak bisa dilakukan mulai transaksi 100 dolar Singapura atau Rp1 juta dan bahkan boleh digabung dengan tiga faktur transaksi, sedangkan di Indonesia harus satu transasksi senilai Rp5 juta.
"Itu kan terbayang, kalau beli coklat Rp300 ribu, lipstik Rp300 ribu, parfum Rp400 ribu. Tiga bon (faktur) boleh digabung. Kalau di sini mesti satu bon, berat," tukasnya.
Jenahara, desainer kenamaan Indonesia, menilai WICSF bisa menjadi tempat bagi pelaku UMKM memasarkan produk. "Konsumen pun jadi dapat pengalaman belanja offline yang memang langsung touch and feel," ungkap Jena.
Menurut dia, sensasi belanja offline di pusat perbelanjaan, apalagi produk-produk khas Nusantara tak tergantikan. "Yang namanya wisata itu pengalamannya yang dibeli. Namun, tidak dimungkiri kalau online yang sedang berkembang ini di-combine dengan wadah khusus lewat sarana offline tentu akan lebih baik," tegasnya. (S-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved