Fundamen Ekonomi RI Kuat

Fetry Wuryasti
20/9/2018 22:45
Fundamen Ekonomi RI Kuat
(ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

KENDATI Indonesia dihadapkan pada risiko penurunan pertumbuhan ekonomi aki­bat gejolak ekonomi global, Bank Dunia menilai peluang terjadi krisis keuangan di Tanah Air relatif kecil. ”Sekarang Indonesia memiliki fundamen ekonomi yang lebih kuat,” kata Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste Rodrigo A Chaves saat peluncuran Laporan Kuartalan Ekonomi Indonesia di Jakarta, Kamis (20/9).

Rodrigo menuturkan ketidakpastian global yang meningkat akibat perang dagang dan juga dampak dari krisis yang terjadi di negara-negara berkembang, di tengah normalisasi kebijakan bank sentral AS The Fed, memang telah menyebabkan keluarnya porfofolio dari pasar di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Keluarnya arus modal menyebabkan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik 121 basis poin di kuartal kedua hingga mencapai 8,2%. Rupiah pun terdepresiasi 4,8% terhadap dolar AS di kuartal kedua, ditambah 2,7% pada Juli dan Agustus. Dalam merespons peningkatan volatilitas pasar keuangan global, Bank Indone­sia menaikkan suku bunga acuan hingga 125 basis poin sejak Mei 2018. “Itu menjadi sinyal komitmen bank sentral terhadap stabilitas meskipun inflasi 3,3% alias masih di bawah target Bank Indonesia,” kata Rodrigo.

Kuatnya fundamen ekonomi Indonesia sebelumnya juga diutarakan lembaga riset internasional asal Jepang Nomura Holding Inc. Lembaga itu menempatkan Indonesia di posisi terendah dalam sistem deteksi dini risiko krisis yang mereka kembangkan. Berdasarkan deteksi sistem yang dinamai Damocles itu, Indonesia masuk kategori negara yang masih jauh dari potensi krisis.

Skor Indonesia berada di level 0 bersama tujuh negara lainnya, yakni Thailand, Bulgaria, Brasil, Kazakhstan, Peru, Filipina, dan Rusia. Negara yang paling rentan terkena krisis ialah Sri Lanka, Afrika Selatan, Argentina, Pakistan, Mesir, Turki, dan Ukraina. Ketujuh negara itu memiliki indeks di atas 100.

“Risiko yang terkait dengan krisis keuangan di Indonesia kecil karena koordinasi kebijakan yang kuat dan fundamen ekonomi yang juga lebih kuat, terutama jika dibandingkan dengan periode Taper Tantru­m (istilah yang merujuk efek peng­umuman kebijakan mone­ter AS yang langsung memukul kurs sejumlah negara berkembang saat itu) dan Krisis Keuangan Asia 1998,” ujar Lead Country Economist Bank Dunia Frederico Gil Sander.

Sander menuturkan, saat ini BI memperketat kebijakan moneter mereka dengan menjaga perbedaan tingkat suku bunga acuan mereka dengan AS sehingga diharapkan mampu ’menjinakkan’ terjadinya arus modal keluar.

Dalam kesempatan itu, Bank Dunia sedikit mengkritik kebijakan pemerintah yang menunda sejumlah proyek infrastruktur dan kelistrikan yang sedang berjalan. Mereka menilai langkah itu tidak membantu memperbaiki defisit neraca. Namun, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai langkah penundaan proyek yang dilakukan pemerintah bukan sekadar untuk menyelesaikan defisit dalam jangka pendek. “Mungkin memang tidak dalam jangka pendek, tapi ini juga untuk tahun depan. Kita kan enggak mungkin hitung dalam harian atau mingguan,” ujar dia di acara itu. (E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya