Tiongkok tidak Akan Devaluasi Yuan

Tesa Oktiana Surbakti
19/9/2018 16:43
Tiongkok tidak Akan Devaluasi Yuan
(ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

SEIRING meningkatnya tensi perang dagang dengan Amerika Serikat, Pemerintah Tiongkok memastikan tidak akan mendevaluasi yuan. Hal itu diutarakan Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang, pasca Negeri Tirai Bambu melakukan serangan tarif balasan kepada AS.

Pada Senin (17/8) kemarin, Presiden AS Donald Trump mengumumkan putaran tarif baru atas komoditas impor dari Tiongkok senilai US$200 miliar. Tak perlu menunggu waktu lama, Tiongkok menggencarkan aksi retaliasi dengan memberlakukan tarif impor bea masuk terhadap komoditas AS sebesar US$60 miliar.

Se[erti dikutip Channelnewsasia, Dalam perhelatan World Economic Forum di Tianjin, Rabu (19/8), Li mengungkapkan kecil kemungkinan Tiongkok mau melemahkan mata uang untuk suatu hal yang tidak berdasar. Dalam hal ini, dia tidak secara langsung menyinggung konflik dagang AS-Tiongkok.

"Depresiasi yuan lebih banyak membawa kerugian, daripada manfaat bagi Tiongkok. Kami tidak akan melemahkan mata uang untuk mendongkrak kinerja ekspor," ucap Li seraya menekankan Tiongkok tidak perlu melakukan devaluasi yang hanya berbuah profit tipis atau sedikit dolar.

Lebih lanjut dia menuturkan, sistem perdagangan global berbasis multilateral, semestinya ditegakkan. Kebijakan perdagangan yang bersifat unilateral disebutnya tidak akan menyelesaikan persoalan apapun. Pernyataan Li memberikan angin segar terhadap nilai tukar yuan yang kehilangan nilai sebesar 9% sejak pertengah April. Tepatnya, begitu perang dagang antara dua negara perekonomian raksasa memanas.

Sebelum menjatuhkan putaran tarif baru, pemerintahan Donald Trump telah memberlakukan tarif terhadap komoditas impor Tiongkok senilai US$50 miliar. Langkah Washington mengguncang ekosistem perdagangan di Tiongkok, termasuk industri berteknologi tinggi. Tarif baru dari AS sebesar 10% yang mulai diterapkan pekan depan, rencananya meningkat hingga 25% akhir 2018.

Bank of America Merril Lynch memproyeksikan laju Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok turun 0,5% akibat imbas gejolak perang dagang. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada 2019 diprediksi sebesar 6,1%. Di lain sisi, Oxford Economics memandang PDB Tiongkok pada tahun depan sulit tumbuh di atas 6%.

"Akan tetapi, kemungkinan deskalasi (perang dagang) akan terjadi, seiring menguatnya pertumbuhan ekonomi AS yang membuat Trump tidak terlalu agresif. Sementara itu, Tiongkok menyadari bahwa sulit untuk berintegrasi ke lingkup ekonomi global, tanpa beberapa konsesi dengan model ekonomi khusus," demikian bunyi catatan Oxford Economics. (E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Adiyanto
Berita Lainnya