Produksi Bayu Urip Jadi Alasan Lifting Minyak Dipatok Jadi 775 Ribu BPH

Nur Aivanni
18/9/2018 18:43
Produksi Bayu Urip Jadi Alasan Lifting Minyak Dipatok Jadi 775 Ribu BPH
(. ANTARA FOTO/Reno Esnir)

DIREKTUR Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto menyampaikan bahwa adanya perubahan lifting minyak dari 750 ribu barel per hari menjadi 775 ribu barel per hari sebagaimana perdebatan yang cukup dalam saat rapat bersama Komisi VII DPR RI beberapa waktu lalu.

"Ada perdebatan yang cukup dalam saat RDP Komisi VII, di nota keuangan tertulis 750 ribu barel per hari. Komisi VII menginginkan angka yang lebih besar, kita lihat outlook 2018 yaitu 775 ribu barel per hari," terang Djoko dalam rapat bersama Banggar dan Panja yang membahas asumsi dasar, pendapatan, defisit dan pembiayaan dalam RUU APBN 2019, di ruang Banggar, Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (18/9).

Temuan besar untuk minyak, kata Djoko, berada di Banyu Urip. Ia pun berharap Banyu Urip tahun ini bisa meningkatkan tambahan produksi sampai dengan 10 ribu barel per hari. "Sehingga penurunan secara alamiah di tahun 2019 dari 775 ribu barel per hari, kami harap bisa diimbangi dengan kenaikan produksi dari Banyu Urip," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Djoko juga mengutarakan bahwa Pertamina kurang agresif untuk melakukan eksplorasi. Secara umum, kata dia, lapangan minyak yang dikelola Pertamina adalah lapangan tua.

"Pertamina kurang agresif untuk melakukan eksplorasi. Jadi, setiap pemerintah menawarkan wilayah kerja baru ke publik, Pertamina ngga pernah mau ambil. Dia senangnya investasi di luar negeri, bahkan di luar negeri sebetulnya belum tentu berhasil," katanya.

Karena itu, ia menyampaikan bahwa Pertamina harus didorong agar mau melakukan investasi di negeri sendiri. "Ke depan kita harus dorong Pertamina sama-sama untuk melakukan investasi dan ekplorasi di Indonesia. Jangan hanya senangnya untuk lapangan tua," ucapnya.

Menanggapi itu, Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas'ud Khamid mengakui bahwa sumur-sumur yang dikelola Pertamina sudah tua. Kendati demikian, ia menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan ekspansi pengeboran baik di dalam wilayah kerja maupun di luar wilayah kerja.

"Untuk jangka panjang, kami harapkan dari Chevron. Kami berusaha juga dengan Dirjen Migas bagaimana kita bisa persiapan untuk masuk bekerja sama dengan Chevron sehingga 2021 kami ngga lagi meraba-raba," pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya