Mendag Minta Industri Tekstil Penuhi Kebutuhan Nasional

(Pra/E-3)
15/9/2018 09:40
Mendag Minta Industri Tekstil Penuhi Kebutuhan Nasional
(ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dapat memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Hal itu penting mengingat masih ada peluang yang besar di dalam industri tersebut.

Ia mengatakan saat ini vo­lume produksi TPT tercatat sebesar 6,18 juta ton. Angka itu jauh di bawah kapasitas terpasang sebesar 12,45 juta ton. Hasil dari produksi itu pun sebanyak 70% untuk pasar mancanegara. Hanya 30% yang disisakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Sekarang saya ajak industri untuk isi dahulu dalam negeri. Kebutuhan kita amat besar. Penuhi itu,” ujar Enggartiasto di sela-sela menghadiri sosiali-sasi roadmap dan dialog tekstil nasional Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), di Bandung, Jawa Barat, kemarin.
Pemerintah, lanjut dia, akan menampung aspirasi pelaku usaha TPT terkait hal-hal yang jadi kebutuhan mereka untuk merealisasikan pemenuh­an kebutuhan dalam negeri.

“Sekarang mereka sedang menyusun roadmap. Kemudian mereka akan sampaikan apa yang diminta. Kebutuhan apa, fasilitas apa, iklim dan peraturan usaha seperti apa. Pemerintah akan dukung,” jelasnya.

Enggar, biasa ia disapa, menambahkan meski harus memenuhi pasar dalam negeri, industri TPT nasional juga perlu memanfaatkan peluang ekspor agar berkontribusi besar terhadap perekonomian.

Pada kesempatan sama, Ketua API Ade Sudrajat mengatakan pihaknya siap memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga 100%. Saat ini, angka kebutuhan tekstil di Indonesia tercatat 6,5 kilogram per kapita per tahun.

Dari total penduduk sebesar 260 juta, industri dalam negeri baru mampu memenuhi kebutuhan untuk sekitar 60 juta jiwa. “Sejauh ini, pelaku industri TPT lebih memilih penjualan ekspor karena keuntungan yang lebih menarik. Hal itu disertai besarnya permintaan dari berbagai negara termasuk AS, Tiongkok, dan Australia,” katanya.

Bahkan, lanjut dia, tahun ini ekspor TPT diprediksi mencapai US$13,5 miliar atau tumbuh 8% dari pencapaian pada 2017 senilai US$12,78 miliar.

“Optimisme ini tumbuh lantaran iklim usaha yang membaik dan sejumlah infrastruktur pendukung industri yang dibangun oleh pemerintah, serta upaya kerja sama dagang dengan negara-negara lain,” tutup Ade. (Pra/E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya