Proyeksi Rupiah di 14.300-14.700

Cahya Mulyana
14/9/2018 04:30
Proyeksi Rupiah di 14.300-14.700
( MI/Susanto)

BANK Indonesia (BI) optimistis mampu mengendalikan dampak kebijakan Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) yang berpotensi menaikkan suku bunga acuan (Fed fund rate/FFR) hingga mencapai 3,25% tahun depan.
BI memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah akan berge­rak di rentang 14.300 hingga 14.700 per dolar AS.

“Kami berharap situasi keuangan 2019 lebih controllable dibandingkan 2018 ini,” terang Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara saat mengha­dir­i rapat kerja dengan Komisi XI di Kompleks MPR/DPR, Jakarta, Kamis (13/9).

Ia menjelaskan kebijakan pengetatan moneter oleh AS berlangsung sejak 2015. Saat itu FFR bergerak dari 0,25% hingga kini berada di level 2,0% atau naik 1,75%.

Bahkan, sebenarnya persiapan penaikan suku bu­nga dilakukan sejak 2013 dan pengetatan likuiditas mulai 2014. Hal itu menimbulkan volatilitas yang tinggi pada negara-negara emerging market, termasuk Indonesia.  

“Jadi, ada dua hal terjadi sekaligus dari The Fed, likuiditasnya berkurang dan suku bunganya naik,” jelasnya.

Hal itu  membuat BI harus menaikkan suku bunga acuan untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dan inflasi. Kemudian dilanjutkan dengan kebijakan menurunkan suku bunga acuan pada 2016-2017.

Mirza menjelaskan tren pengetatan dari The Fed ini akan berlangsung hingga 2019. Untuk 2018, masih akan ada  dua kali lagi penaikan, yakni pada September dan Desember. Pada 2019 akan dilakukan sebanyak 2-3 kali.  

“Dalam proyeksi BI suku bunga AS 2019 akan naik sampai 3,25%. Jadi, masih ada 1,25% lagi suku bunga AS meningkat,” ujarnya.

Dalam merespons kebijakan The Fed, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 125 basis poin sepanjang 2018.

Terus menguat
Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta kemarin sore bergerak ke posisi Rp14.792.

Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, mengatakan perang dagang yang berpotensi mereda setelah pejabat Amerika Serikat menyampaikan pembicaraan bilateral menahan apresiasi dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah.
“Dolar AS tertahan karena kabar mengenai sentimen perdagangan kedua negara itu,” katanya seperti dikutip dari Antara.

Ia menambahkan, dolar AS juga mendapat sentimen negatif dari data indeks harga konsumen (PPI) yang dirilis mengecewakan. Data PPI Amerika Serikat turun 0,1% pada Agustus.

Nilai tukar rupiah memang terus menguat dalam perdagangan pekan ini. Bahkan rupiah telah bergerak mendekati  level 14.800 per dolar AS sejak Rabu (12/9).

Rupiah pada perdagangan Rabu ditutup menguat 0,16% ke 14.830, setelah sejak pembukaan pagi tertekan bersama mata uang Asia pada posisi 14.847,8 per dolar AS. “BI berupaya mengelola tekanan tersebut agar rupiah tidak melemah, bahkan dapat mendorong rupiah lebih menguat menjelang penutupan ke 14.830,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah. (Try/E-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya