Membuhulkan Doa pada Wilujengan Dukutan

(Widjajadi/N-3)
13/9/2018 05:00
Membuhulkan Doa pada Wilujengan Dukutan
(MI/Widjajadi)

TENGAH malam menjelang pergantian tahun baru Jawa (Saka) sekaligus tahun baru Hijriah atau 1 Muharram yang jatuh pada Selasa (11/9), suasana di Masjid Agung Keraton Surakarta tampak berbeda dari biasanya. Ratusan orang, baik sentana dalem dan abdi dalem, serta masyarakat berkumpul di masjid untuk menggelar acara Wilujengan Dukutan.

Acara itu dilaksanakan Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta. Terdengar doa-doa dipanjatkan orang-orang yang berkumpul di masjid itu pada tengah malam. Suasana tenang dan khusyuk menyelimuti suasana malam yang mulai dingin.

“Kita sebut gelaran doa itu sebagai Wilujengan Warsa Anyar Tahun Be 1952 windu sangara. Intinya ­Wilujengan Dukutan ini berupa permohonan doa untuk memohon keselamatan dan kerahmatan negeri kita ini, NKRI tercinta ini, agar terhindar dari banyak cobaan,” kata Ketua Lembaga Hukum Dewan Adat Keraton Surakarta, Kanjeng Pange-ran Edy Wirabhumi kepada Media Indonesia, Selasa (11/9) malam.

Wilujengan Dukutan, lanjut Mas Wirabhumi, sapaan akrabnya, sebenarnya secara rutin selalu digelar Keraton Surakarta. Setiap Selasa Kliwon, Keraton Surakarta menggelar Wuku Dukut dan Wuku Mondosiyo.

Upacara adat ini untuk memperingati kemenangan masyarakat adat yang telah berhasil mengalahkan dan menghancurkan perilaku kekejian dan kebiadaban nafsu sang Prabu Baka, raksasa pemakan manusia.

Upacara adat itu diwujudkan melalui doa adat yang dipanjatkan dan sesaji tradisi yang dipersembahkan masyarakat. Para peserta upacara adat Mondosiyo memberikan sesaji tradisi. “Tujuannya agar lolos dari malapetaka dan terbebas dari su-kerta. Sekaligus masyarakat ingin memperoleh kedamaian dan kemakmuran. Serta kemudahan hidup bersama secara terus-menerus.”

Namun, kali ini doa yang dipanjatkan juga menyinggung keadaan bangsa Indonesia. “Doa yang dipanjatkan sama yakni memohon kepada Tuhan agar bangsa ini selalu sentosa dan dihindarkan dari segala rintangan yang menghadang,” kata Wirabhumi.

Dalam sejarahnya, pergantian tahun baru Jawa (Saka) dan tahun baru Islam pertama kali dipakai bertepat-an dengan 1 Muhharam 1043 H atau 8 Juli 1633. Yakni saat Kerajaan Mataram dipimpin Raja Sultan Agung Hanyakrakusumo.

Setiap pergantian tahun inilah dilaksanakan kegiatan Wilujengan Dukutan. Ketua Lembaga Adat Keraton Surakarta, GKR Wandasari yang akrab dipanggil Gusti Murtiyah mengajak seluruh abdi dalem untuk terus menjaga adat dan tradisi dengan baik. Ia berharap agar kebudayaan dan tradisi keraton tetap terawat dan berkembang baik.

“Salah satunya ya Wilujengan Dukutan ini. Kita bisa berkumpul dan berdoa bukan saja untuk keselamatan bangsa ini. Tetapi, juga untuk keraton, sebagai pancer budaya Jawa yang tetap lestari,” tandas dia.

Peringatan pergantian tahun Jawa atau 1 Suro, tahun ini Raja Paku Buwono XIII juga menggelar kirab pusaka, yang didahului dengan kirab kerbau bule mengelilingi tembok besar keraton sejauh 6 km. Ribuan masyarakat menyambut ritual tradisi unik, yang disebut-sebut sebagai ajang mencari berkah. (Widjajadi/N-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya