Pasokan listrik untuk kebutuhan Jawa dan Bali bakal bertambah 660 megawatt (Mw) pada 2016. Hal itu seiring dengan bakal beroperasinya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dibangun PT Lestari Banten Energi (LBE) di Serang, Banten.
"Lokasi ini dipilih agar daya sebesar 660 Mw dapat menyerap beban yang ada di Banten dan sekitarnya," ujar Wakil Direktur Pengembangan Bisnis LBE, Ahmad Janwal, kepada wartawan di Banten, kemarin.
Daya dari PLTU itu nantinya menambah 3% dari kebutuhan listrik Jawa dan Bali yang mencapai 25 ribu Mw. "Masih kecil sekali memang, hanya 3%," ujar Janwal.
Namun, pihaknya akan berupaya mempercepat pembangunan proyek tersebut. Saat ini, imbuhnya, pembangunan PLTU Banten sudah berjalan 40%. Hal itu seiring permintaan dari PT PLN (persero) agar pembangkit LBE segera beroperasi sebelum 2017. "Melihat kondisi sekarang, kami yakin mampu beroperasi di 2016," ujar Janwal.
LBE ialah pengembang listrik swasta (IPP) yang tergabung dalam Genting Grup asal Malaysia. Kesepakatan jual beli (PPA) listrik dengan PLN telah ditandatangani di awal Juli 2014. Proyek PLTU Banten ini memiliki masa kontrak 25 tahun. Setelah masa kontrak berakhir, PLTU itu bakal menjadi milik PLN.
Proyek tersebut membutuhkan investasi US$1 miliar (Rp12 triliun). Sumber pendanaannya dari dana ekuitas LBE dan dari konsorsium bank nasional dan Asia Tenggara. PLTU ini menjadi pembangkit IPP pertama tanpa menggunakan jaminan pemerintah (government guarantee).
Pengoperasian PLTU Banten itu diperkirakan menekan penggunaan BBM sehingga menghasilkan penghematan untuk PLN senilai Rp9,4 triliun per tahun.
Meski belum beroperasi, Project Eksekutif LBE Mustaffa Maimun menyatakan pihaknya sudah melaksanakan program tanggung jawab sosial (CSR) dengan membangun lima toilet di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Salira, Serang, Banten.