Menkeu: Penerimaan Negara Tinggi di Tengah Penguatan Dollar

Fetry Wuryasti
10/9/2018 14:33
Menkeu: Penerimaan Negara Tinggi di Tengah Penguatan Dollar
(ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

NILAI kurs yang melemah, disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tidak mempengaruhi penerimaan negara. Sebab dari sisi APBN 2018 dengan kurs yang lebih tinggi dari asumsi 2018, penerimaan negara sampai Agustus meningkat cukup tinggi dan konsisten.

Kementerian Keuangan mencatatkan tumbuhan penerimaan perpajakan di atas 15%. Ini pertumbuhan tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

"APBN kita penerimaan negara dari pajak, bea cukai dan PNBP ketiganya tumbuh cukup kuat," ujar Menteri Keuangan di Gedung Parlemen, Senin (10/9).

Realisasi penerimaan negara per 31 Agustus 2018 Rp 1152,7 triliun 60,8% dari total penerimaan. Penerimaan negara tumbuh 18,4% dari Agustus tahun lalu 11,4%. Penerimaan pajak 16,5%, dari PNBP tumbuh 24,3%.

" Sehingga penerimaan domestik melonjak dari 11,4% di Agustus 2017 menjadi 18,4% di Agustus 2018,"

Belanja negara juga tercatat meningkat dengan total 8,8% dibanding Agustus 2017 pada level 5,6%.Dengan akselerasi belanja lebih tinggi maka keseimbangan primer atau primary balance berada di posisi sangat rendah positif Rp 11 triliun.

Dari sisi belanja,yang sensitif terhadap nilai tukar adalah belanja subsidi belanja subsidi. Namun karena subsidi diitung berdasarkan  parameter yang sudah ditetapkan yaitu volume dari diesel yang pemerintah subsidi ditambah harga per liter maka belanja tidak sensitif kepada belanja negara. Sebab yang harus menanggung dari harga pasar adalah Pertmaina.

Parameter penghitungan subsidi adalah tetap sesuai Undang-undang maka belanja tidak mengalami perubahan.

Pemerintah akan terbebani belanja bunga utang akibat yield SBN meningkat. Maka ongkos berutang dari luar neheri menjadi lebih tinggi.

Dengan suku bunga relatif lebih mahal maka pemerintah harus lebih berhati-hati. Maka arah APBN 2019 , pemerintah mendesain defisit lebih rendah karena melihat trend beban bunga meningkat.

"Kami konsolidasikan dengan konsolidasi fiskal yang lebih kuat," tukas Sri Mulyani.  

Sebelumnya nilai tukar rupiah yang terus melemah, disampaikan Ketua Komisi XI DPR RI Melchias Marcus Mekeng banyak menimbulkan keresahan, meskipun di sisi lain perekonomian Indonesia masih cukup bagus.

Dia mempertanyakan kemungkinan terganggunya sumber penerimaan negara ,  sebab pertumbuhan ekonomi berdasar dari penerimaan negara.

"Kalau tidak terganggu tentu kami optimis pertumbuhan ekonomi 5,3% bisa tercapai. Tapi kalau pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang dengan pinjaman , kita akan bisa berdiskusi lebih panjang," tukas Mekeng. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya