Produksi dalam Negeri Siap Memenuhi Kebutuhan Domestik dan Ekspor

Gana Buana
06/9/2018 12:17
Produksi dalam Negeri Siap Memenuhi Kebutuhan Domestik dan Ekspor
(ANTARA/Adwit B Pramono)

MENTERI Perindustrian Airlangga Hartanto meyakini, beleid pengendalian impor bisa menggenjot produksi dalam negeri. Sebab, industri Indonesia sudah siap menambah produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

“Seperti sektor otomotif, ini adalah sektor yang diprioritaskan pengembangannya oleh pemerintah, terutama dalam menghadapi revolusi industri 4.0,” ungkap Airlangga dalam keterangan resmi, Kamis (6/9).

Airlangga menyebutkan, misalnya komitmen investasi Toyota Group di Indonesia selama 2-3 tahun belakang ini mencapai Rp20 triliun. Mereka menargetkan total ekspor mobil utuh (CBU) untuk tahun ini sebanyak 217 ribu unit atau senilai lebih dari USD3 juta.

“Pertengahan bulan ini juga akan ada ekspor dari Suzuki, sehingga ekspor secara keseluruhan di tahun ini akan menembus hingga 250 ribu unit,” ungkapnya.

Melalui peningkatan ekspor ini dinilai dapat memperbaiki struktural ekonomi Indonesia, yakni defisit transaksi berjalan. Guna menjaga fundamental ekonomi Indonesia, pengendalian impor mobil mewah akan efektif pada bulan ini. Kendaraan yang akan terkena dampak langsung adalah mobil yang memiliki kapasitas di atas 3000 cc dan yang dikategorikan sebagai supercar.

“Tapi kalau yang sudah on the way, ya dilanjutkan saja. Untuk kategorinya dari sisi harga sudah tinggi dan kita sudah punya kriteria sesuai Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Misalnya kategori supercar. Kan tidak ada supercar yang tidak mewah,” ujarnya.

Dari sisi jumlah sebenarnya kuota impor mobil mewah selama ini termasuk kecil untuk Indonesia. Namun dengan pelarangan impor mobil mewah ini, pemerintah ingin menunjukan komitmennya pada produksi mobil dalam negeri.

Pemerintah berharap dengan kebijakan pengendalian impor termasuk untuk mobil mewah, membuat industri otomotif dalam negeri dapat meningkatkan kapasitas ekspornya agar bisa mendatangkan devisa bagi negara.

Airlangga pun menyebutkan, beberapa sektor andalan yang dapat memacu nilai ekspor, antara lain industri makanan dan minuman, industri bahan kimia dan barang kimia, industri pengolahan logam, industri tekstil dan produk tekstil, serta industri pengolahan karet.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, pemerintah berharap sekarang industri bisa melihat kesempatan ini untuk mengganti produk impor. Sebab sekarang barang itu jadi lebih mahal menjadi 15-20%.

“Ini yang kita bikin pemihakan pada industri dalam negeri,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani, kemarin, Rabu (5/9).

Dengan penyesuaian tarif baru ini, beban impor yang selama ini menggerogoti devisa negara bisa berkurang sebesar 2 persen dibandingkan tahun lalu. “Untuk studinya kenaikan 2-4% tarif bea masuk, nilai impor kita akan turun sekitar 1%. Jadi kalau PPh dianggap kurang lebih sama dengan bea masuk, penurunan impor sekitar 2% year on year,” imbuhnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya