PLTN Dipertimbangkan Jadi Sumber Listrik

Raja Suhud Laporan dari Moskow, Rusia
06/9/2018 01:45
PLTN Dipertimbangkan Jadi Sumber Listrik
(DOK PLN )

KETERSEDIAAN dan harga listrik menjadi faktor penentu untuk menarik investasi masuk ke suatu negara. Bank Dunia bahkan memasukkan kemudahan memperoleh listrik sebagai salah satu komponen dalam menghitung peringkat kemu­dahan berusaha di suatu negara.
Berdasarkan survei Bank Dunia 2018, peringkat Indonesia dalam mengakses listrik berada di urutan ke-38 dari sebelumnya ke-49.

Saat ini tarif listrik Indonesia masih cukup kompetitif jika dibandingkan dengan negara lainnya di Asia Tenggara. Untuk listrik industri, harga listrik di Indonesia hanya kalah dari Vietnam (lihat grafik).

Direktur Bisnis Regional Ja­wa Bagian Tengah PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Amir Rosidin menyampaikan PLN akan terus meningkatkan efisiensi pembangkit guna membuat tarif listrik di Indonesia tetap kompetitif.

“Namun, kami tetap hati-ha­ti dengan Vietnam agar posisi kita tetap terjaga sebab mereka juga pasti berusaha untuk membuat tarif listrik lebih kompetitif lagi,” kata Amir di Moskow, Rusia, kemarin.

Apalagi saat ini Vietnam telah memiliki rencana untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Bila hal itu terealisasi, harga listrik di Vietnam akan lebih murah lagi.

Duta Besar Indonesia untuk Rusia Wahid Supriyadi mengatakan Indonesia sudah saatnya menjadikan PLTN se­bagai alternatif sumber penyedia listrik di Indonesia. Apalagi harganya lebih murah jika dibandingkan dengan pembangkit listrik lain yang menggunakan batu bara.

“Harga listrik dari pembang­kit nuklir sekitar 4-5 sen dolar AS. Jadi lebih murah dari­pa­da energi lainnya,” tutur Wahid.

Kepala Pusat Kajian Energi Universitas Indonesia Iwa Garniwa menerangkan teknologi PLTN saat ini telah memasuki generasi keempat. Adapun PLTN yang sering mengalami kecelakaan atau kebocoran merupakan generasi pertama dan kedua.
“Jadi harusnya PLTN yang dikembangkan saat ini relatif sudah lebih aman,” pungkas dia.

PLTN Terapung
Pada kesempatan sama, pro­dusen listrik tenaga nuklir Rusia, Rosatom, menawarkan konsep PLTN terapung bila Indonesia akan mulai menggunakan nuklir sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

President of Rosatom Overseas Evgeny Pakermanov saat menerima kunjungan PLN bersama dengan tujuh rektor universitas dan pengamat energi di Moskow, kemarin, menjelaskan Rosatom tengah mengembangkan floating nuclear power plant (FNPP) pertama di dunia, yang mungkin akan sesuai bagi kebutuhan di Indonesia yang memiliki banyak pulau dan berintensitas gempa cukup tinggi.

“Saat ini kami sedang me­ngembangkan teknologi FNPP yang akan beroperasi pada 2019. Teknologi ini menjadi sa­lah satu mitigasi dalam pengamanan penggunaan ener­gi nuklir bagi pembangkit listrik. Kami siap bekerja sa­ma lebih detail dengan PLN perihal teknologi ini,” kata Pakermanov.

Rosatom memadukan energi nuklir dengan aset-aset ener­gi ketenagalistrikan, termasuk nuclear power plant (NPP), untuk desain dan konstruksinya. Rosatom saat ini menjadi perusahaan pembang­kit listrik terbesar di Rusia, dengan mem­produksi 202.868 juta kwh pada 2017 atau 18,9% total produksi listrik di Rusia.

Direktur Bisnis Regional Ja­wa Bagian Timur Bali dan Nusa Tenggara PLN, Djoko R Abumanan, menambahkan beberapa wilayah di Indonesia memang memiliki intensitas gempa yang banyak karena Indonesia merupakan area dari ring of fire.
“Karena itu, kami tertarik pada teknologi dan pengamanan dari penggunaan nuklir yang dilakukan Rosatom,” tutup Djoko. (E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya