HARGA minyak dunia yang melemah sejak kuartal terakhir tahun lalu merupakan fenomena yang tidak dapat diprediksi. Hal itu diungkapkan oleh Director General and Chief Executive Officer of the OPEC Fund for International Development (OFID) Suleiman Jasir Al-Herbish.
Suleiman mengatakan banyak faktor yang mempengaruhi harga minyak dunia, di antaranya supply dan demand. ''Dan masih banyak ekpektasi lainnya,'' ucapnya saat konfrensi pers dalam International Student Energy Summit di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/6).
Seperti diketahui, harga minyak dunia masih berada pada level yang lemah, yakni di kisaran US$50 per barel meski saat ini trendnya sedikit demi sedikit mengalami penaikan. Pemerintah pun membuat asumsi harga minyak Indonesia (ICP) naik dari US$60 per barel pada APBNP 2015 menjadi US$65 per barel di RAPBN 2016. Namun, asumsi itu belum disepakati oleh legislatif.
Menanggapi wacana masuknya kembali Indonesia menjadi anggota penuh Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), Suleiman mengatakan hal itu sangat baik mengingat Indonesia adalah salah satu pencetus berdirinya OPEC. Indonesia dinilainya bisa menjadi observer atau peninjau di dalam OPEC.
''Indonesia adalah anggota tetap sejak 1960an dan sekarang mau masuk kembali menjadi anggota, itu adalah kabar baik,'' imbuhnya.(Q-1)