Pengembangan Pariwisata Terintegrasi

Raja Suhud
30/8/2018 05:30
Pengembangan Pariwisata Terintegrasi
(ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

PEMERINTAH menyadari sektor pariwisata menjadi salah satu kunci dalam membenahi persoalan current deficit account (CAD) yang membayangi perekonomian selama ini.

Devisa yang bisa diperoleh dari sektor pariwisata me-nempati posisi ketiga setelah devisa dari ekspor sawit dan batu bara. Bahkan devisa sektor pariwisata bersifat strategis karena langsung masuk dan dikonversikan ke dalam rupiah.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan Thailand yang memiliki sektor pariwisata yang maju memiliki surplus neraca perdagangan hingga US$40 miliar karena sektor pariwisata bisa menyumbang devisa US$62 miliar.

“Kita ingin mengembangkan pariwisata karena kita memiliki modal yang cukup. Untuk memacu percepat-an sektor ini perlu sinergi dan kerja sama dari semua pihak,” kata Perry saat memaparkan hasil Rakor Pembangunan Pemerintah Pusat, Daerah, BI, dan OJK, di Yogyakarta, Rabu (29/8).

Hadir dalam rakor itu Menko Maritim Luhut Pandjaitan, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi,  Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, dan Ketua OJK Wimboh Santoso, serta para gubernur dan kepala daerah yang memiliki daerah wisata unggulan.

Rakor menghasilkan sembilan strategi yang akan ditempuh guna memacu perkembangan sektor pariwisata (lihat grafik).

Menko Maritim mengatakan pemerintah serius untuk menyelesaikan permasalahan yang menghambat perkembangan pariwisata. “Pariwisata memegang arti penting karena selain mendatangkan devisa juga menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Luhut.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengemukakan sektor pariwisata merupakan  sektor yang paling mudah dikembangkan karena telah memiliki modal yang cukup. Tinggal dipromosikan maka wisatawan akan datang ke daerah wisata.

“Kalau dari sisi atraksi, kita punya banyak. Yang masih perlu dibenahi ialah akses.  Bagaimana agar akses ini dapat membuat wisatawan langsung sampai ke daerah wisata,” ujarnya.

Pembenahan bandara menjadi salah satu kunci. Ia mencontohkan dengan operasional bandara baru Yogyakarta di Kulon Progo, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) akan masuk sekitar 400 ribu orang, meningkat dari 250 ribu wisman saat ini.

Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan untuk meraih kunjungan wisman mencapai 20 juta orang atau naik 3 juta dari target tahun ini. Jumlah devisa yang diharapkan pun mencapai US$20 miliar.
 “Ada 4 daerah yang diprioritaskan untuk dikembangkan, yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo,” ujar Arief.

Beri insentif
Wamen Keuangan Mardiasmo mengatakan pemerintah juga akan mengalokasikan dana ke daerah guna menggenjot penciptaan sumber daya manusia yang mumpuni di sektor pariwisata.  

“Bagi pelaku UMKM akan ada KUR pariwisata. Sementara bagi kawasan ekonomi khusus akan ada insentif berupa pembebasan dan pengurangan pajak serta pemberian restitusi PPN,” jelasnya.  Yang jelas, kata dia, pengembangan pariwisata harus dilakukan secara terintegrasi.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan pihaknya akan membantu dalam hal pemenuhan kebutuhan pendanaan. “Bisa dari perbankan berupa kredit ataupun pasar modal berupa penerbitan reksa dana atau kontrak investasi kolektif lainnya, “ tandasnya. (E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya