Industri Siap Terapkan Kebijakan B20

Andhika Prasetyo
29/8/2018 23:15
Industri Siap Terapkan Kebijakan B20
(Antara)

PT Pertamina menyatakan siap menyerap solar dengan ­campuran minyak sawit atau sering disebut dengan biodiesel 20 (B20) sebanyak 20%.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama Pertamina Nicky Widyawati seusai menghadiri rapat koordinasi terkait dengan B20 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu (29/8).

“Kalau suplai FAME (fatty acid methyl ester) memang ada, kami pasti serap sebab tugas kami memang mencampur komponen sawit itu ke solar dan menyalurkan kepada SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum) ke masyarakat,” ujar Nicky.

Ia mengatakan seluruh badan usaha bahan bakar minyak (BU BBM) memiliki komitmen sama menjalankan kebijakan pemerintah dengan semaksimal mungkin. ­“Tidak ada yang tidak siap. Per 1 September nanti kita akan jalankan,” ucapnya.

Ia juga mengaku pihaknya bersama pemerintah telah bertemu industri-industri pengguna solar seperti ope­rator alat-alat berat.

“Di situ kami sudah sepakati. Semua spesifikasi terkait kandungan, aturan, itu diatur Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM dan semuanya sudah oke,” jelasnya.

Dengan kebijakan B20, lanjut dia, nantinya badan usaha bahan bakar nabati menyup-lai FAME kepada BU BBM untuk dicampur solar dengan kandungan komponen sawit sebesar 20%.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor menyampaikan pihaknya siap memenuhi alokasi pengadaan biodiesel yang ditetapkan sebesar 2,89 juta kiloliter hingga akhir tahun nanti.

Ia menilai produsen biofuel tidak akan kesulitan memenuhi alokasi itu karena kapasitas terpasang produksi cukup besar hingga mencapai 14 juta kiloliter per tahun.

Menko Maritim Luhut Pan-djaitan menyatakan kewajiban penggunaan B20 akan menguntungkan petani sebab penerapan campuran 20% bahan bakar nabati dari mi-nyak sawit ke biodiesel akan mengerek harga produk sawit dari petani. “Dengan berlakunya ketentuan B20 mulai 1 September, permintaan sawit akan meningkat. Harganya akan naik sehingga mencapai US$600 per ton dari saat ini di kisaran US$500,“ kata Luhut saat Rakorbangpus di Yogyakarta, kemarin.

Menghemat devisa
Luhut menambahkan pemerintah juga membidik penghematan devisa dari penggunaan B20 agar ­menekan defisit neraca perdagangan. Kini produksi sawit Indonesia mencapai 36 juta ton per tahun. Ke depan, pemerintah membidik kenaikan produksi hingga 60 juta ton.

“Dengan penerapan B20 bisa dihemat devisa US$2 miliar dari penggunaan 1,2 juta biodiesel. Tahun depan penghematan akan lebih besar yakni US$7 miliar karena penggunaan biodiesel mencapai 8 juta-10 juta ton. Selain itu, Tiongkok akan membeli sawit kita sekitar 1,2 juta ton. Saya yakin dari sawit ini kita bisa tekan defisit current account tahun depan,” ujarnya.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menargetkan pemasukan devisa dari sawit hingga akhir 2018 sebesar US$22,9 miliar.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan satu hal untuk tercapainya proyeksi itu ialah volume produksi. Pada Juli 2018, produksi CPO dan PKO tercatat 4,28 juta ton. Angka itu merupakan rekor tertinggi produksi CPO dan PKO sejak 2015.

Dengan tambahan itu dan setelah dikurangi penjualan ke dalam dan luar negeri, persediaan minyak sawit hingga akhir Juli 2018 mencapai 4,9 juta ton. “Produksi dan volume ekspor yang tinggi bisa menolong target devisa tahun ini.” (Uud/E-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya