Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Presiden RI Jusuf Kalla menegaskan bahwa kebutuhan energi selalu bertambah setiap tahunnya, terutama bagi negara seperti Indonesia yang kelompok kelas menengahnya terus bertambah. Semakin tingginya pertumbuhan ekonomi, menurut Kalla, juga mendorong terus bertumbuhnya kebutuhan energi.
"Energi hari ini merupakan suatu kebutuhan utama. Kalau dulu kebutuhan utama kita adalah sembako, sekarang bertambah dengan energi. Saya kira sebagian besar di antara kita kalau pulang ke rumah yang pertama kali dicari bukan istri, tetapi colokan untuk mencharger kembali smartphonenya atau menyalakan televisi, yang mana semuanya membutuhkan energi," terang Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membuka acara “The 7th IndoEBTKE ConEx 2017” di Balai Kartini Jakarta, Rabu (29/8).
Dirinya menjelaskan, bahwa kebutuhan energi baik itu listrik maupun energi fosil bagi kendaraan akan terus meningkat. Hal itu, kata dia, merupakan suatu keniscayaan. Terlebih apabila melihat posisi elektrifikasi Indonesia yang masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara tetangga di ASEAN. Sehingga, apabila terjadi suatu masalah pada pembangkitnya maka akan berdampak langsung kepada masyarakat. "Sehingga setiap kemajuan tidak mungkin tanpa ada kebutuhan energi," terang Kalla.
Indonesia saat ini menurutnya memiliki setidaknya 60 ribu MW jika seluruh pembangkit selesai dibangun. Selama ini porsi energi terbesar berasal dari pembangkit energi fosil baik itu batu bara, BBM, dan gas. Indonesia menargetkan adanya sumber energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23%.
"Tahun 2025 itu kira kira pembangkit kita diproyeksikan sudah mencapai 100 ribu MW, artinya 23% itu adalah 23 ribu MW sebagai target wajib dicapai untuk renueble energi. Sekarang baru 9 ribu MW, jadi dalam waktu 7 tahun kita butuh 14 ribu MW renueble energi. Artinya tiap tahun dibutuhkan minumum 2 ribu MW hingga 2025 dan apabila tidak tercapai 2 ribu MW pertahun maka kita akan melanggar aturan," terangnya.
Disamping perlunya komitmen dari pemerintah, pihaknya berharap dalam pertemuan kali ini juga akan memunculkan trobosan-trobosan dalam pengembangan EBT.
"EBT dalam bentuk hydro, geo thermal, surya, angin dan lainnya harus menjadi perhatian dengan target 2 ribu MW per tahun untuk mencapai target. Jangan lihat dari 60 ribu MW, tetapi harus dihitung dari 100 ribu MW pada tahun 2025, karena tanpa penambahan Indonesia akan kekurangan energi," terang Kalla. (OL-7)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved