Astra International Siap Kembangkan Bisnis Fintech

Fetry Wuryasti
28/8/2018 23:15
Astra International Siap Kembangkan Bisnis Fintech
(ANTARA FOTO/Audy Alwi)

PT Astra International Tbk (ASII) akan mengembangkan bisnis layanan keuangan berbasis teknologi (financial technology/fintech) seiring pesatnya pertumbuhan bidang itu di dalam negeri.

Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto menyampaikan bidang fintech akan mendukung bisnis perseroan ke depannya. “Modal kami cukup besar dengan aset keseluruhan jasa keuangan hampir Rp300 triliun. Fintech merupakan pelengkap jasa keuangan yang ada di Astra,” ungkap Prijono di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Selasa (28/8).

Sebelumnya, pada pertengahan Februari 2018, perseroan telah mengucurkan investasi ke perusahaan bidang fintech seperti operator transportasi berbasis aplikasi Go-Jek sebesar Rp2 triliun. Suntikan modal tersebut sebagai upaya salah satu perusahaan raksasa otomotif itu untuk mengakselerasi industri pada bidang digital.

Prijono mengatakan pihaknya juga optimistis pada tahun ini Astra International bakal membukukan pertumbuhan kinerja keuangan yang positif.

“Kinerja Grup Astra hingga akhir 2018 diperkirakan cukup baik, didukung dengan stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia dan harga batu bara yang stabil, walaupun persaingan yang kompetitif di pasar mobil dan melemahnya harga minyak kelapa sawit menjadi perhatian kami,” katanya.

Tercatat, laba bersih Astra International pada semester pertama 2018 mencapai Rp10,4 triliun, atau meningkat 11% jika dibandingkan dengan di periode sama tahun lalu. Adapun pendapatan bersih selama periode itu meningkat 15% menjadi Rp112,6 triliun, dengan peningkatan pendapatan terutama dari bisnis alat berat dan pertambangan.

Tingkatkan PDB
Sementara itu, hasil kajian Institute for Development of Economics and Finance (Indef) bersama Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) menunjukkan perusahaan fintech menyumbang Rp25,97 triliun terhadap ekonomi Indonesia.

Peneliti Indef, Bhima Yudhistira, menjelaskan selain mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp25,97 triliun baik secara langsung maupun tidak langsung, perkembangan fintech juga berhasil meningkatkan konsumsi rumah tangga hingga Rp8,94 triliun.
“Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan fintech telah mampu meningkatkan perekonomian Indonesia secara makro,” ucap Bhima.

Ekonom Indef, Nailul Huda, menambahkan, dari sisi dunia usaha, kompensasi tenaga kerja baik berbentuk gaji maupun upah mampu meningkat Rp4,56 triliun dengan sektor yang mengalami kenaikan ialah sektor ­perdagangan, keuangan, dan asuransi.

“Kehadiran fintech juga mampu menyumbang penyerapan tenaga kerja sebesar 215.433 orang yang tidak hanya dari sektor-sektor tersier, tetapi juga pada sektor primer, yaitu pertanian mengalami penyerapan tenaga kerja yang cukup besar yakni 9.000 orang,” ujar Huda.

Kajian yang dilakukan Indef dan Aftech itu dilatarbelakangi rendahnya penetrasi layanan keuangan di Indonesia, khususnya dalam bidang kredit atau pembiayaan. Hal itu ditunjukkan dengan rasio penyaluran kredit terhadap PDB yang masih berada di angka 39,1% (Bank Dunia, 2015). (E-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya