Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDUSTRI minyak sawit Indonesia kembali mendapatkan ritmenya di pasar global. Sepanjang Juli 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia yang terdiri dari CPO, PKO dan turunannya, serta oleochemical dan biodiesel membukukan rekor tertinggi sepanjang sejarah bulanan yaitu 3,22 juta ton.
Jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, capaian tersebut naik 27%. Kala itu, ekspor minyak sawit hanya 2,54 juta ton.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengungkapkan harga yang sedang murah menjadi faktor pendorong utama menggeliatnya pasar minyak sawit Indonesia.
Di samping itu, India yang beberapa bulan lalu menahan permintaan, pada Juli kembali membeli minyak sawit dalam jumlah besar.
Tercatat, pada bulan ketujuh tahun ini, ekspor minyak sawit ke India naik 40% dari bulan sebelumnya hingga mencapai 652,73 ribu ton dan menjadi yang tertinggi sepanjang 2018.
"Bea masuk yang tinggi sudah tidak menjadi faktor penghambat lagi karena pada awal Juli lalu India juga menaikkan tarif bea masuk untuk kedelai, rapeseed, bunga matahari dan kacang tanah. Sekarang, walaupun terkena bea masuk, produk nabati kita masih tetap lebih rendah dibandingkan yang lain," jelas Mukti.
Sementara itu, secara akumulasi, capaian kinerja ekspor minyak sawit Indonesia dan industri hilirnya termasuk biodiesel dan oleochemical naik 2% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Volume ekspor Januari-Juli 2017 mencapai 18,15 juta ton dan pada tahun ini melompat tipis menjadi 18,52 juta ton.
Bergeser ke harga, sepanjang Juli 2018, harga rata-rata minyak nabati tercatat US$587,4 per metrik ton.
Harga CPO global terus tertekan karena hanya minyak nabati lain juga sedang jatuh. "Meskipun pada Juli ekspor meningkat cukup signifikan, stok tidak kunjung turun karena produksi yang besar. Stok minyak sawit pun mencapai angka tertinggi pada Juli ini yakni 4,9 juta ton," sambungnya.
Dorongan untuk meningkatkan konsumsi dalam negeri terus digalakkan oleh pemerintah melalui perluasan pelaksanaan mandatori B20 yang sedang bergulir. Program B20 perlu segera diimplementasikan untuk menyerap hasil minyak sawit dan mengurangi belanja impor solar sehingga defisit neraca perdagangan akan dapat ditekan. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved