BI Bakal Ubah Target Pertumbuhan Kredit

Irene Harty
05/6/2015 00:00
BI Bakal Ubah Target Pertumbuhan Kredit
(MI/PANCA SYURKANI)
BANK Indonesia bakal mengubah target pertumbuhan kredit untuk sepanjang tahun ini. Hal itu melihat hingga April 2015 kredit yang disalurkan oleh perbankan mencapai Rp3.747,3 triliun atau tumbuh 10,3% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 11,1% (yoy). Sedangkan target pertumbuhan kredit sepanjang tahun mencapai 15%-17%.

"Tentu mungkin akan ada revisi karena kita kan sudah merevisi pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan kredit saya pikir akan mengikuti pertumbuhan ekonomi yang melambat," tutur Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah, usai Shalat Jumat di pelataran Mesjid Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (5/6). Kemungkinan di semester dua akan ada revisi dari bisnis bank-bank mengenai pertumbuhan kredit.

Halim menyebut pelambatan pertumbuhan kredit datang dari faktor ekaternal yabg menyebabkan ekspor turun cukup tajam. Situasi itu khususnya terjadi di daerah-daerah penghasil barang-barang ekspor seperti Kalimantan dan Sumatera.

Pertumbuhan ekonomi di Kalimantan tercatat 1% dan Sumateran sekitar 3%. Sementara di Pulau Jawa pertumbuhan ekonomi masih cukup stabil sekitar 5%.

"BI mencoba menjaga dan melihat momentum pertumbuhan, itu sebabnya kami merelaksasi kebijakan kita supaya pertumbuhan kredit ini paling tidak bisa didorong, supaya banknya bisa lebih tertarik untuk menyalurkan kredit," lanjutnya. Halim berharap ke depan relaksasi yang dilakukan dapat didorong oleh pelaksanaan program-program penting pemerintah terutama proyek infrastruktur.

Dia juga berharap ekonomi dunia akan membaik di semester kedua sehingga harga-harga bahan pangan lebih stabil dan ekspor tertolong. Melambatnya pertumbuhan kredit dan kontraksi operasi keuangan pemerintah pusat yang turun menjadi 32,9% (yoy) dari sebelumnya 38,2% (yoy) ditengarai menjadi penyebab likuiditas perekonomian Uang Beredar dalam arti luas juga melambat.

Sampai April 2015, posisi M2 tercatat sebesar Rp4.274,9 triliun, tumbuh 14,9% (yoy), melambat ketimbang pertumbuhan Maret 2015 yang sebesar 16,3% (yoy). Perlambatan pertumbuhan bersumber dari komponen M1 (Uang Kartal dan Giro Rupiah) maupun komponen Uang Kuasi (Simpanan Berjangka dan Tabungan baik dalam rupiah maupun valas serta Simpanan Giro Valuta Asing).

M1 tumbuh 9% (yoy) dan Uang Kuasi 16,7% (yoy), melambat dari 12,2% (yoy) dan 17,6% (yoy) pada bulan sebelumnya. "Kalau dalam konteks peredaran uang, 70% uang beredar itu ada di Jabodetabek, tetapi pengalirannya ke seluruh Indonesia termasuk kantor pusat perusahaan yang ada di Jakarta ini juga beroperasi di luar Jawa," sahut Halim.

Dana Pihak Ketiga yang juga terlihat melambat lebih disebabkan oleh pilihan konsumen. Hal itu berarti mulai ada pergeseran daya tarik dari produk-produk perbankan ke produk-produk pasar modal yang memiliki imbal hasil lebih menarik.

"Termasuk juga barangkali sebagian tertarik juga untuk bermain valas ya," tambahnya. Oleh sebab itu BI menghimbau masyarakat untuk tidak terlalu khawatir melihat situasi saat ini dengan hambatan bukan hanya terjadi di Indonesia saja.

Tercatat suku bunga simpanan dengan tenor satu, tiga, atau enam bulan pada April 2015 turun menjadi 7,96%, 8,59% dan 8,98%, dari sebelumnya 8,31%, 8,81% dan 9,11% di bulan sebelumnya. Rata-rata suku bunga kredit juga mulai mengalami sedikit penurunan dari 12,99% menjadi 12,98%, mengikuti tren penurunan suku bunga simpanan. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya