PEMERINTAH serius memperkuat industri pertahanan dalam negeri, dengan mengurangi impor bahan material maupun pembelian alat-alat militer dari luar negeri.
Kepala Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan saat mengunjungi sejumlah industri strategis untuk memperkuat industri militer di Bandung, Jawa Barat, Kamis (4/6).
"Pemerintah ingin industri strategis bersinergi sehingga tidak perlu impor. Semua kebutuhan militer bisa terpenuhi dari kemampuan sendiri," tegas Luhut.
Dia menyebutkan PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad telah mampu memproduksi peralatan militer.
"Ini kekuatan ekonomi Indonesia. Jadi tidak perlu beli leopard-leopard lagi. Presiden Jokowi pun serius untuk memperkuat industri-industri strategis. Apalagi pembangunan di industri maritim seperti tol laut, kami dorong pembangunan kapal penumpang, kapal perang dan sebagainya."
Anggaran untuk memajukan industri maritim khususnya kapal sebesar Rp25 triliun untuk lima tahun. Dengan adanya sinergi yang kuat antarindustri, perguruan tinggi dan BPPT maka 80 persen hasilnya buatan dalam negeri.
"Bahan bakunya pun bisa seluruhnya dari dalam negeri. Ini yang diinginkan presiden. Karena bisa menyerap tenaga kerja cukup banyak dan produknya punya daya saing."
Pada pertemuan itu hadir pula Kapolda Jawa Barat, Direktur PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, PT LEN, PT Pindad, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, dan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto. Luhut pun kembali menekankan bahwa seluruh industri strategis harus bekerja sama dengan sangat ketat karena potensi ekonominya cukup tinggi.
Pemerintah, lanjutnya sudah menunjuk BPPT sebagai lembaga tempat menguji semua produk-produk yang dihasilkan industri strategis maaupun perguruan tinggi.
Kepala BPPT Unggul Priyanto menambahkan BPPT sudah siap untuk menjadi tempat pengujian prototipe yang dihasilkan industri strategis. Unggul mencontohkan untuk pesawat terbang bisa dilakukan uji terowongan angin sirkuit tertutup di Laboratorium Aero Gas dan Getaran BPPT di Serpong. Kemudian uji kapal di Balai Pengkajian dan Penelitian Hidrodinamika BPPT, Surabaya.
"BPPT saat ini akan membangun laboratorium untuk menguji peralatan militer seperti uji memutar tank buatan Pindad," kata Unggul.
Pada intinya, lanjut Unggul BPPT siap menjadi tempat uji dan meriview desain-desain produk yang dianggap belum sempurna. Adanya keseriusan pemerintah dalam memperkuat industri strategis bisa memajukan laboratorium-laboratorium baik di lembaga riset, perguruan tinggi maupun industri strategis.
"Untuk uji terbang saja bayar Rp500 juta. Jadi ada nilai ekonomi yang diperoleh dari penguatan industri dalam negeri untuk memperkuat lembaga riset." (Q-1)