Tepat, Upaya BI Stabilkan Rupiah

(Pra/Nur/E-2)
22/8/2018 23:00
Tepat, Upaya BI Stabilkan Rupiah
(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

UNTUK menstabilkan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia telah beberapa kali menaikkan suku bunga acuan. Terakhir pada pertengahan Agustus lalu, BI menaikkan suku bunga acuan (BI 7-day reverse repo rate) sebesar 0,25% ke level 5,50%.

Langkah bank sentral itu, menurut ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, merupakan hal yang lumrah. Menurut dia, BI tidak memiliki pilihan lain karena jika suku bunga acuan dipertahankan, cadangan devisa (cadev) Indonesia akan tergerus dan semakin tidak sehat. “Psikologi untuk cadev itu di US$100 miliar. Sekarang saja sudah mendekati angka itu,” terang Faisal, di Jakarta, Selasa (21/8).

Berdasarkan data BI, cadev Indonesia per Juli 2018 turun US$1,5 miliar menjadi US$118,3 miliar jika dibandingkan dengan posisi Juni 2018 yang masih sebesar US$119,8 miliar.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan pemerintah memang harus tetap menjaga nilai tukar rupiah jika ingin mengendalikan utang luar negeri yang pada akhir triwulan II 2018 tercatat sebesar US$355,7 miliar. “Pelemahan nilai tukar rupiah bisa berisiko memperlebar utang tersebut,” ujarnya, Rabu (22/8).

Namun, Hans menilai utang luar negeri Indonesia masih terbilang aman jika dibandingkan utang yang dimiliki Malaysia. Meskipun utang Indonesia (sekitar Rp5.000 triliun) masih lebih besar jika dibandingkan dengan Malaysia (sekitar Rp3.500 triliun), rasio utang Indonesia sekitar 29% dari produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, rasio utang Malaysia mencapai 60% dari produk domestik bruto.

Berdasarkan data Rancang­an Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019, pembiayaan utang pemerintah tahun depan menurun menjadi Rp359,3 triliun jika dibandingkan dengan APBN 2018 sebesar Rp387,4 triliun.
Penurunan pembiayaan utang itu seiring dengan pre­diksi turunnya defisit APBN 2019 menjadi Rp297,2 triliun atau 1,84% dari produk domestik bruto. Pada tahun ini, pemerintah memasang proyeksi defisit sebesar 2,12% terhadap produk domestik bruto. (Pra/Nur/E-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya