PT Pertamina mewacanakan pembentukan induk BUMN minyak dan gas bumi (migas) dan menjadi leader-nya. Wacana itu dinyatakan perseroan berdasarkan arahan dari Presiden Joko Widodo yang menginginkan adanya sinergi antar BUMN.
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan sinergi antara BUMN dilakukan agar mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Di samping itu, tujuannya adalah agar ketahanan energi nasional semakin bisa dicapai. "Nah salah satu bentuk sinergi itu mungkin adalah membangun holding," ujar Dwi saat ditemui di gedung DPR, Jakarta, Rabu (27/5).
Dwi menuturkan holding Pertamina dengan BUMN migas lainnya, yakni PT Perusahaan Gas Negara bisa menjadi potensi besar. Opsi lain, yang bisa saja holding dengan PGN adalah anak perusahaan Pertamina. Namun, wacana itu masih harus disetujui terlebih dahulu dengan PGN, terlebih PGN sudah merupakan perusahaan terbuka di mana 40% saham di dalamnya sudah dimiliki oleh investor swasta dan asing.
"Artinya, kalau kita holding, harus semua pihak menerima. Kepentingan pasar modal di Indonesia harus dipikirkan juga. Jangan sampai investor menjadi tidak percaya dengan Indonesia," kata Dwi.
Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno mengatakan wacana itu masih terus dikaji dengan mempersiapkan road map. "Apakah BUMN Migas akan terjadi atau tidak," cetusnya.
Yang saat ini pemerintah akan lakukan, kata Rini, ialah bagaimana meningkatkan kinerja dan nilai BUMN Migas dengan mereka melakukan sinergi antarsesama BUMN.
Bangun Storage Bersama Di samping itu, Pertamina telah menandatangani kesepakatan bersama dengan PT Pelabuhan Indonesia II dan PT ASDP Indonesia Ferry dalam kerangka sinergi BUMN untuk pengembangan dan pemanfaatan infrastruktur BBM bagi transportasi laut.
Kerja sama Pertamina dengan Pelindo II mencakup investasi pembangunan, pengembangan, dan pengoperasian terminal BBM. Selain itu juga dalam penyediaan produk BBM kepada kapal-kapal laut, khususnya yang akan singgah di pelabuhan milik Pelindo II, yakni Pelabuhan New Priok dan Kalibaru. Terminal BBM yang akan dibangun pada tahap awal direncanakan berkapasitas 500.000 kilo liter (kl).
Sementara kerja sama dengan ASDP mencakup penyedia produk BBM dan pelumas untuk kapal ferry yang beroperasi di seluruh wilayah operasional ASDP di Indonesia.
"Misal Pelindo II butuh kapal-kapal dan mereka belum punya lahan yang cukup luas, biarpun ada storage. Ini dark serangkaian kerja sama yang akan bertambah dengan memanfaatkan aset," papar Rini.
Kerja sama itu, lanjut Rini, bertujuan untuk meningkatkan cadangan minyak nasional yang masih 18 hari menjadi 30 hari. "Pertamina lebih mudah dibandingkan dengan apabila harus disediakan sendiri," imbuhnya. (Q-1)