Pekerja Kontrak Terkena Getah Perlambatan Ekonomi

Dero Iqbal Mahendra
28/5/2015 00:00
Pekerja Kontrak Terkena Getah Perlambatan Ekonomi
(MI/Ramdani)
MELAMBATNYA pertumbuhan ekonomi menimbulkan multiplayer effect kepada banyak hal dalam roda perekonomian di Indonesia.

Dampak yang paling terasa adalah menurunnya pendapatan para pengusaha terutama sektor garmen dan juga sektor ritel akibat yang berdampak kepada pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan guna menutup kerugian lebih lanjut.

"Perlambatan di Q1 ini cukup dalam jadi sementara ini yang terjadi adalah penekanan biaya yang salah satunya adalah pengurangan karyawan. Saat ini yang perusahaan banyak lakukan adalah mengurangi pekerja yang statusnya kontrak atau outsourcing tetapi untuk karyawan tetap belum terjadi," ujar Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani di Jakarta, Kamis (28/5).

Dia merasa khawatir bila kondisi perekonomian global terus berlanjut sebab walau bagaimanapun pengaruh dari ekonomi global cukup besar dampaknya ke Indonesia. Untuk itu dirinya berharap pada semester ke II pemerintah dapan mengeksekusi belanja negara dengan baik walau dirinya melihat bahwa dari penerimaan pajak diperkirakan akan berat.

Untuk itu diharapkan perlu adanya rasionalisasi terhadap postur yang ada, dalam artian walaupun diharapkan goverment spending berjalan tetapi harus dilihat kembali terhadap penerimaan yang ada. Bahkan Dirinya menilai bahwa proses perlambatan ekonomi masih tetap berjalan hingga saat ini dan masih belum terlihat titik balik untuk perekonomian.

"Kita harapkan di semester II ini khususnya setelah hari raya mudah-mudahan ada titik baliknya. Halpir semua sektor melakukan penghematan baik itu manufaktur maupun jasa yang terkait dengan retail baik yang ada di pusat perbelanjaan maupun yang ada di outlet," terang Hariyadi.

Hariyadi mengungkapkan bahwa besaran pengurangan karyawan akan tergantung dari seberapa besar total penurunan omset perusahaan, yang diperkirakan akan berdampak hingga 25% dari total penurunan omset. Hariyadi menyadari bahwa konidisi ini akan membaik bila kemampuan daya beli masyarakat membaik.

"Kita juga menyambut baik kemarin dari BI melinggarkan aturan loan to value (LTV) dimana itu sangat membantu mendorong kembali daya beli masyarakat. Jadi memang kebijakan-kebijakan yang ada itu harus di relaksasi untuk memperbaiki keadaan," jelas Hariyadi.

Dalam kesempatan yang berbeda Menteri Perindustrian Saleh Husein, Rabu  (27/5), mengungkapkan bahwa industri tekstil saat ini memang sudah ada beberapa yang merumahkan karyawannya sebagai dampak dari penurunan penjualan pabrik tekstil hingga 50%.

Meski begitu dirinya melihat bahwa hal ini hanya bersifat sementara dan berharap adanya perputaran ekonomi yang membaik terutama ketika menjelang hari raya kebutuhan akan tekstil akan meningkat.

"Kalau yang orientasi ekspor malah memperluas pabriknya. Industri tekstil yang orientasi pasarnya pasar domestik memang banyak yang mem-PHK, tapi yang orientasinya pasar ekspor justru memperluas," ujar Saleh.

Sebelumnya berdasarkan laporan dari APRISINDO (Asosiasi Persepatuan Indonesia) dan API (Asosiasi Pertekstilan Indonesia) terjadi PHK hingga banyak karyawan dari kedua asosiasi tersebut. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya