Iran akan Bangun 48 PLTA di Indonesia

Jessica Sihite
27/5/2015 00:00
Iran akan Bangun 48 PLTA di Indonesia
(MI/DENNY SAPUTRA)
PADA akhir pekan lalu, pemerintah Indonesia terbang ke Iran untuk mendiskusikan kerja sama bilateral diantara kedua negara. Hasil dari pertemuan itu ialah adanya minat dari Iran untuk membangun 48 pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Indonesia. Kerja sama ini kembali didiskusikan lebih lanjut setelah sebelumnya sempat terhenti lantaran diembargonya Iran oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait kasus nuklirnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan kerja sama bilateral itu dibutuhkan Indonesia karena teknologi ketenagalistrikan Iran dinilai cukup maju. Pun, Iran sangat berminat untuk berinvestasi di sektor energi Tanah Air.

''Mereka punya industri pembangkit dari mulai boiler, generator, sampai turbin,'' ucap Sudirman kepada Media Indonesia, Rabu (27/5).

Sudirman bilang beberapa perusahaan engineering, procurement, and construction (EPC) Iran telah menawarkan kerja sama dengan mekanisme turnkey atau kontrak terima jadi. Kerja sama Indonesia - Iran dalam pembangunan PLTA itu akan dimungkinkan terjadi secara business to business dengan PT Perusahaan Listrik Negara (persero) atau independent power producer (IPP) bersama perusahaan EPC Iran.

''Kita perlu waktu, sambil terus mendorong kerjasama B to B antar kedua negara,'' cetusnya.

Ditemui di kantornya pada Selasa malam, Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil menyatakan pemerintah Indonesia akan mengundang perusahaan-perusahaan EPC Iran untuk ikut serta dalam tender pembangunan pembangkit. ''Nanti kita undang termasuk siapa saja, tetapi belum ada pembicaraan detail,'' ujarnya.

Sebelum ikut melakukan kunjungan, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja menuturkan kerja sama dengan Iran bukan hanya dilakukan untuk pembangunan pembangkit, tetapi juga impor minyak mentah dan pembangunan kilang di Indonesia.

Tidak hanya impor, Indonesia juga rencananya akan mengekspor pangan ke Iran, seperti beras dan hasil perkebunan. "Kita impor minyak, tapi kita juga ekspor beras, pisang, sayuran. Di sana ga ada sawah dan perkebunan," kata Wiratmaja. (Jes/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya