(Vice President Corporate Communications Pertamina Wianda Pusponegoro/Antara/Widodo S Jusuf)
MANAJEMEN PT Pertamina membantah tudingan mantan Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) Faisal Basri yang mengatakan adanya keganjilan dalam bisnis jual beli gas elpiji 3 kilogram.
Perusahaan BUMN ini pun membantah telah mencari keuntungan dari sisa elpiji tabung yang telah habis. Pasalnya, elpiji yang masih terisi di tabung akan dibuang sebagai syarat keamanan sebelum diisi ulang.
Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro menegaskan hal itu dilakukan untuk menjaga mutu produk elpiji 3 kg.
"Pertamina juga mengacu kepada syarat dan ketentuan yang ditetapkan Pemerintah, baik kualitas maupun kuantitas isinya," kata Wianda, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (27/5).
Wianda menjelaskan sebagai produk yang dipasarkan dalam kemasan tertutup, elpiji 3 kg sudah memenuhi ketentuan dalam Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 31/M-DAG/PER/10/2011 untuk menjamin agar konsumen tidak dirugikan dan benar-benar mendapatkan elpiji 3 kg sesuai dengan isinya.
Dalam kondisi ini, penukaran tabung kosong, Wianda mengungkapkan konsumen selalu menyisakan gas elpiji, karena secara teknis sisa elpiji sulit dikeluarkan tanpa menggunakan alat khusus (vakum).
"Demikian pula pada saat dilakukan pemeliharaan tabung di Retester, untuk alasan safety Pertamina mewajibkan agar tabung harus divakum dan dikosongkan," tambah dia.
Adapun untuk menjelaskan tudingan Faisal Basri, menurut Wianda, Pertamina telah secara rutin melakukan kegiatan stock opname pada depot elpiji dan SPBE setiap akhir bulan untuk menghitung stok elpiji yang ada.
"Jika terdapat kelebihan atau kekurangan stok akan diperhitungkan sebagai stok awal di bulan berikutnya. Sehingga tidaklah benar bahwa Pertamina secara rente sengaja mencari keuntungan dari sisa epiji tersebut," tegas dia.
Wianda mengungkapkan dalam pelaksanaan bisnis elpiji ini, seluruh stok yang ada di SPBE merupakan milik Pertamina, sehingga pengukuran atas epiji curah yang diserahkan ke SPBE dilaksanakan di titik serah Depot Pertamina, dengan menggunakan jembatan timbang yang telah ditera oleh Dinas Metrologi.
"Pertamina tidak pernah melarang SPBE untuk melakukan penimbangan ulang ataupun memiliki alat ukur sendiri, bahkan Pertamina memfasilitasi desain layout SPBE dengan opsi penempatan jembatan timbang," ungkap dia.
Sebelumnya, mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) Faisal Basri mengungkapkan keganjilan bisnis elpiji 3 kg. Dia mengatakan dalam setiap pengisian elpiji, ternyata PT Pertamina tidak mengisikan secara penuh.
Faisal mengungkapkan sejak 2006 sampai sekarang, tarif feeling fee untuk Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) hanya sekitar Rp300, sedangkan biaya operasional selalu naik. Namun SPBE tidak meminta kenaikan feeling fee karena mereka sudah tertutupi dari keuntungan sisa pengisian LPG.
"Oknum Pertamina dan seluruh bisnis elpiji 3 kg membagi-bagi rente dalam bentuk sisa elpiji. Setiap tabung kosong menyisakan sekitar lima sampai 10 persen LPG," kata Faisal, dalam diskusi media dengan tema 'Revisi Undang-Undang Migas dan Upaya Reformasi Tata Kelola Migas Indonesia', di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Selasa (26/5).
Faisal menjelaskan sistem pengisian tabung elpiji saat ini selalu mengisi tabung yang masih berisi lima sampai sepuluh persen gas. Sedangkan, Pertamina selalu menghitung pengisian tabung secara penuh untuk elpiji tiga kg.
"Setiap tabung kosong menyisakan sekitar lima sampai 10 persen elpiji. Namun Pertamina menghitung setiap tabung yang kosong tetap diisi penuh 3 kg," jelas dia.
Faisal mengindikasikan dalam pengisian ini ada oknum yang memainkannya. Pasalnya, setiap kali Pertamina diminta untuk menimbang ulang, perusahaan BUMN tersebut selalu mengelaknya.
"Tak ada pihak lain yang boleh mengukur ulang. Pertamina melarang pengukuran ulang di SPBE," ujar dia.
Dikatakan, timbangan merupakan alat vital perdagangan. Bila timbangan seperti ini saja dipermainkan, maka peradaban perekonomian akan terancam.
"Timbangan adalah alat vital dalam perdagangan. Jika mempermainkan timbangan sudah mendarah daging, sistematik, dan massif, peradaban bakal terancam," pungkas dia. (Q-1)