Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
UNTUK mempertahankan daya tarik pasar keuangan Indonesia sekaligus mengendalikan defisit neraca transaksi dalam batas aman, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan (BI 7-day reverse repo rate) sebesar 0,25% ke level 5,50%.
"BI mendukung upaya pemerintah menurunkan defisit neraca transaksi berjalan, termasuk menggenjot ekspor dan menurunkan impor untuk memperkuat ekonomi domestik dari berbagai sentimen global," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di kantornya di Jakarta, kemarin.
Selain itu, Bank Sentral menetapkan suku bunga penempatan likuiditas harian perbankan (deposit facility) 4,75% dan suku bunga pinjaman kepada perbankan (lending facility) 6,25%. Dengan demikian, sejak awal tahun BI telah menaikkan suku bunga empat kali sebesar 125 basis poin.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, defisit neraca transaksi yang berjalan memerlukan pendanaan dari luar negeri untuk menutupinya.
"Mereka yang mau mendanai bisa dalam bentuk investasi langsung asing, portofolio asing, dan utang dalam negeri. Kreditur tentu ingin ekonomi (negara) yang mereka danai dikelola dengan prudent. Indonesia sudah menunjukkan kebijakan moneter yang lebih prudent. Kami terus menunjukkan kehati-hatian itu," ujar Mirza.
Pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) kuartal kedua mencapai US$8 miliar dipicu impor bahan baku dan barang modal yang sifatnya produktif.
Perry Warjiyo mengakui rapat Dewan Gubernur BI kali ini diwarnai berbagai perkembangan global dan domestik. Dari global, BI mencermati kirisis keuangan yang menerpa Turki. Dari domestik, BI mengantisipasi berbagai indikator ekonomi termasuk perkembangan neraca pembayaran.
"BI terus mencermati dan mewaspadai risiko eksternal, baik dari kenaikan suku bunga Fed fund rate, ketegangan perdagangan, maupun krisis di Turki," ungkap Perry.
Ekspor menurun
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia Juli mengalami defisit US$2,03 miliar jika dibandingkan bulan sebelumnya yang surplus sebesar US$1,74 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto menuturkan defisit neraca perdagangan disebabkan jumlah ekspor yang lebih kecil daripada impor. Tercatat, ekspor Juli hanya sebesar US$16,24 miliar, tetapi impornya mencapai US$18,27 miliar.
"Ekspor Juli tercatat US$16,24 miliar, naik 25,19% jika dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya US$12,97. Ekspor terdongkrak selepas Lebaran," kata Suhariyanto, kemarin.
Dalam menanggapi hal ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui bahwa statistik Juli memang anomali. "Pemerintah akan mengendalikan agar pertumbuhan ekonomi di tengah perekonomian global yang tengah bergejolak ini tidak mengalami disrupsi terlalu besar. Kita harap industri dalam negeri menggunakan kesempatan ini untuk maju," tandas Menkeu Sri Mulyani. (Pra/Nur/Ant/X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved