Perusahaan Tiongkok akan Investasi Smelter di Papua
Annisa Ayu Artanti
26/5/2015 00:00
(ANTARA/M AGUNG RAJASA)
KEPALA Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Papua, Bangun S Manurung mengatakan sampai saat ini sudah ada perusahaan dari Tiongkok yang berminat berinvestasi dalam pembangunan smelter di Papua.
"Untuk kemajuan smelter di Papua sudah ada perusahaan yang berminat, dari Golden Felix," kata Bangun, di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (25/5) malam.
Golden Felix adalah salah satu perusahaan yang berasal dari Tiongkok. Perusahaan itu telah menyatakan kesiapannya untuk berinvestasi dalam pembangunan smelter ini.
Bangun menambahkan, hingga hari ini pemerintah daerah sedang menunggu konsep dan time schedule dari perusahaan tersebut.
"Mereka sudah menyatakan kesiapan. Dari Tiongkok, tapi sampai sekarang belum datang lagi untuk membicarakan lagi bagaimana konsep mereka. Bagaimana time schedule mereka," ungkap dia.
Lebih lanjut, Bangun menjelaskan smelter di Papua ini rencananya akan dibangun di Timika, Kabupaten Mimika dengan total investasi sebesar US$1 miliar.
"Plus minus US$1 miliar. Kapasitasnya 900 ribu ton per tahun. Di Timika, Kabupaten Mimika," jelas dia.
Freeport minta dukungan
Sementara itu, PT Freeport Indonesia meminta dukungan pemerintah daerah (pemda) untuk membangun smelter di Papua. Freeport saat ini masih mempunyai kendala konsentrat dari hasil produksinya.
Presiden Direktur Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin mengungkapkan dukungan dari pemda tersebut yakni berupa infrastruktur untuk mengatasi pasokan konsentrat.
"Kalau (smelter) akan dibangun di Papua, bagi Freeport ini perlu didukung. Mengatasi masalah konsentrat ini perlu didukung," kata Maroef.
Ia mengatakan smelter perlu dibangun karena bukan hanya Freeport yang menghasilkan konsentrat, karena di situ juga ada Newmont.
"Di masa akan datang yang menghasilkan konsentrat itu tak hanya Freeport, ada Newmont. Ada di Gorontalo," ujar dia.
Menurutnya, volume konsentrat yang banyak sudah tidak dapat ditampung oleh smelter yang saat ini sudah ada.
"Besaran konsentrat tak akan bisa ditampung oleh smelter yang sudah eksis saat ini," ungkap dia.
Ia menjelaskan, pada 1999 Freeport sudah membangun smelter di Gresik. Namun hanya mampu menyerap 40 persen dari konsentrat yang diproduksi. "Kami akan membangun pengembangan," tutup dia. (Q-1)