Kenaikan Bunga Acuan Tunjukan Indonesia Kelola Moneter Secara Pruden

Fetry Wuryasti
15/8/2018 16:37
Kenaikan Bunga Acuan Tunjukan Indonesia Kelola Moneter Secara Pruden
(ANTARA)

RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 14-15 Agustus 2018 memutuskan untuk menaikkan 0,25% BI 7-Day Reverse Repo Rate (7DRRR) di level 5,50%. Selain itu, bank sentral juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,25%.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara hal ini dilakukan karena melihat gejolak di dunia yang juga diperparah oleh krisis di Turki. Indonesia juga merupakan negara dengan defisit neraca transaksi berjalan, artinya harus mendapat pendanaan dari luar negeri untuk mendanai defisit tersebut.

Tentunya mereka yang mau mendanai bisa dalam bentuk investasi langsung asing, portofolio asing dan utang dalam negeri. Kreditur, kata Mirza, tentu ingin ekonomi yang mereka danai dikelola dengan prudent. Selama ini Indonesia menunjukkan kebijakan moneter sudah lebih prudent.

"Maka kami terus menunjukkan kehati-hatian tersebut," ujar Mirza di Kompleks Bank Indonesia, Rabu (15/8).

Pelebaran defisit transaksi berjalan atau current acccount deficit (CAD) di kuartal II - 2018 yang menjadi US $ 8 miliar, memang disebabkan oleh impor barang baku, barang modal yang sifatnya produktif.

"Biar bagaimanapun juga kami ingin tunjukkan pruden mengelola ekonomi dan kami tidak ingin CAD ini semakin melebar. Karena kalau semakin melebar artinya kebutuhan pendanaan dari luar negeri juga melebar. Sehingga kenaikan suku bunga tentu dimaksudkan untuk ada penyesuaian di sisi demand side," ujarnya.

Indonesia ingin memastikan CAD bisa di bawah 3% dari PDB. Bank Indonesia juga ingin memastikan mempertahankan modal tetap masuk ke Indonesia, BI harus membuat yield atau imbal hasil suku bunga riil agar tetap menarik. Indonesia berkompetisi dengan negara lain yang juga membutuuhkan dana dari luar negeri.

"Dengan naikkan bunga selain mengontrol current account defisit juga ingin mempertahankan instrumen finansial di Indonesia tetap menarik," tukas Mirza. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya