Stabilitas RI Lebih Baik daripada Turki

(Nur/E-2)
15/8/2018 06:30
Stabilitas RI Lebih Baik daripada Turki
(ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

MENTERI Keuangan Sri Mulyani mengatakan kondisi perekonomian Indonesia masih terjaga. Hal itu antara lain ditandai dengan inflasi dan pengelolaan tata keuangan yang relatif terkendali.

Penegasan itu disampaikan Menkeu untuk menjawab kekhawatiran sebagian pihak tentang krisis keuangan yang terjadi di Turki. Menurut Sri Mulyani, kondisi perekonomian Indonesia jauh berbeda dengan yang sekarang tengah menimpa Turki. Perbedaan yang paling nyata inflasi di Indonesia hanya 3,5% secara tahunan, sedangkan di Turki sudah di atas 15%.

"Growth (pertumbuhan ekonomi) kita 5%, tetapi kita tidak berhubungan dengan current account deficit yang tinggi seperti Turki. Selain itu, utang-utang swasta maupun pemerintah secara keseluruhan termasuk public debt relatif terkontrol," tuturnya, kemarin.

Seperti dikutip situs Kementerian Keuangan, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun ini mencapai Rp13.798,91 triliun. Jumlah PDB yang cukup besar itu selain mendudukkan Indonesia pada posisi ke-16 dari negara-negara dengan perekonomian terbesar atau G-20, juga menunjukkan kekuatan perekonomian Indonesia untuk menutup total utang pemerintah yang mencapai 29,24 % dari PDB per akhir Februari 2018.

Hal itu masih sesuai amanat Undang-Undang No 17/2003 tentang Keuangan Negara, bahwa defisit APBN masih terjaga kurang dari 3% terhadap PDB. Adapun menurut laporan Dana Moneter Internasional (IMF), rasio utang luar negeri Turki saat ini mencapai lebih dari 50% dari PDB mereka.

Dalam menyikapi kondisi nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif saat ini, kata Sri Mulyani, penting untuk membawa devisa hasil ekspor ke dalam negeri. Hal itu dilakukan untuk menyeimbangkan kebutuhan antara demand dan supply.

Pihaknya juga akan berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk mengambil langkah yang bisa dilakukan dari sisi fiskal, termasuk pemberian insentif. "Tujuannya lebih ke dunia usaha untuk bersama-sama menghadapi situasi dinamika yang cukup tinggi ini di mana pemikiran mengenai jumlah permintaan dolar untuk impor maupun investasi harus bisa bertemu dengan jumlah suplainya, apakah itu dari FDI (foreign direct investment) atau hasil ekspor."





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya