RAMPUNGNYA pengerukan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) dan pembangunan Terminal Teluk Lamong telah membuat daya tampung kapal besar di Tanjung Perak, Surabaya, makin besar. Perindustrian pun terbantu lewat fokus di bidang maritim ini.
Direktur Utama Pelabuhan Indonesia (Persero) III Djarwo Surjanto mengatakan pembangunan dua infrastruktur laut senilai Rp4,5 triliun itu sangat menguntungkan bagi pelabuhan-pelabuhan dan industri serta logistik yang ada di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak.
"Kami bermaksud mengawali kebangkitan maritim Indonesia dari Jawa Timur, dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, dalam peresmian revitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) dan terminal Teluk Lamong oleh Presien Joko Widodo, di Tanjung Perak, Surabaya, Jumat (22/5).
Ia mencontohkan keuntungan revitalisasi alur laut bagi pabrik pupuk PT Petrokimia Gresik. Dikatakan, sebelum revitalisasi, kapal-kapal mereka hanya mampu membawa fosfat 15 ribu ton. Kini, dengan perbaikan alur itu, industri dapat mendatangkan fosfat 60 ribu ton hingga 80 ribu ton.
Tak hanya itu, kapal-kapal pengangkut peti kemas yang selama ini hanya mampu mengangkut muatan 1.500 TEUs, kini dapat membawa 3.000 TEUs. Kondisi ini tentunya akan berdampak pada daya saing logistik nasional yang berpengaruh pada harga jual barang ke konsumen.
APBS merupakan akses masuk ke kawasan Pelabuhan Tanjung Perak dan sekitarnya. Akses ini direvitalisasi dengan cara diperdalam dan diperlebar. Sebelum revitalisasi, APBS hanya memiliki kedalaman minus 9,5 meter Low Water Sping (LWS) dan lebar 100 meter. Hal ini mengakibatkan ukuran kapal yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak terbatas.
Pasca revitalisasi, APBS memiliki kedalaman hingga minus 13 meter LWS dan lebar 150 meter. "Dulu APBS hanya bisa dilalui kapal-kapal berukuran 15 ribu deadweight tonnage (DWT). Pascarevitalisasi, kapal-kapal yang melalui Pelabuhan Tanjung Perak dan sekitarnya bisa mencapai 80 ribu DWT,†ungkap Djarwo.
“Kondisi APBS saat ini memungkinkan Pelabuhan Tanjung Perak membuka jalur pelayaran langsung menuju Tiongkok maupun negara-negara lainnya. Selama ini kapal-kapal kita baru sampai Singapura,†lanjutnya.
Tak cuma membuka lebih lebar pintu akses ke pelabuhan, Pleino juga memperluas daya tampung pelabuhan. Bentuknya, pembangunan Terminal Teluk Lamong yang merupakan perluasan dari Pelabuhan Tanjung Perak. Hal ini untuk mengantisipas kelebihan kapasitas daya tampung di pelabuhan terbesar kedua di Indonesia itu.
Direktur Teknik dan Teknologi Informasi Pelindo III Husein Latief mengungkapkan pengembangan Terminal Teluk Lamong tahap pertama, dari 2010 hingga 2014, memakan luasan sekitar 40 hektare terminal. Terminal ini, katanya, akan digunakan untuk melayani peti kemas domestik dengan kapasitas 500 ribu TEUs, peti kemas internasional 1 juta TEUs, dan curah kering dengan standar pangan yang akan siap pada 2016 dengan kapasitas 5 juta ton. (Q-1)