Pakar Sebut Kondisi Pelemahan Rupiah Saat Ini Berbeda dengan 1998

Syarief Oebaidillah
14/8/2018 21:15
Pakar Sebut Kondisi Pelemahan Rupiah Saat Ini Berbeda dengan 1998
(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

PAKAR Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, A Tony Prasetiantono, menyatakan, kondisi pelemahan rupiah saat ini sangat berbeda dengan kondisi saat krisis moneter 1998 yang terjadi di Indonesia.

Hingga hari ini, kurs rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika. Di pasar spot pada Selasa (14/8) siang, nilai tukar dolar ditransaksikan Rp14.630 per US$1. Sementara harga jual dolar AS masih berada di rentang Rp14.695-Rp14.790 per US$1.

"Kondisi sekarang tidak sama dan tidak bisa dibandingkan dengan kondisi bangsa Indonesia saat 1998," kata Tony pada diskusi yang digelar JMC dengan tajuk 'Strategi dalam Mengantisipasi Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS' di Jakarta, Selasa.

Tony menegaskan, pelemahan nilai rupiah saat ini hanya melemah satu ribu rupiah sejak Pemerintahan Joko Widodo pada 2014.

"Kurs rupiah itu tahun ini hanya melemah Rp1.000 dari Rp13.700 menjadi Rp14.600 sekian jadi kalau dihitung-hitung itu seribu, ini beda dengan (kondisi krisis) 97-98 (1997-1998), Rupiah itu loncat dari Rp2.300 menjadi Rp15.000 ini yang kita harus sosialisasikan pada masyarakat," jelas dia.

Menurutnya, pelemahan rupiah ketika krisis moneter 1997-1998 sangat drastis, bahkan kenaikan mencapai 6 kali lipat.

Selain itu, dia juga menilai bahwa kondisi perbankan saat ini dengan perbankan ketika itu juga sangat berbeda, di mana saat 97-98 banyak bank yang mengalami kolaps dan butuh suntikan bantuan dari Bank Indonesia.

Sementara kondisi perbankan Indonesia saat ini meski jumlahnya dibatasi, kondisinya sehat. Kemudian, dari sisi keuangan, pemerintah juga tak diharuskan melakulan penjualan aset-aset BUMN dan lainnya.

"Konteksnya beda, story behind-nya beda. Cerita di balik itu berbeda," jelasnya.

Dosen UGM ini juga meyakini pelemahan rupiah akan segera pulih di level Rp13.000 apabila faktor eksternal bisa teratasi.

"Kurs rupiah di level sekarang melemah, tapi dan mungkin tidak sangat susah kembali ke level Rp13.000, karena memang banyak masalah yang membuat ekonomi global kita makin susah, ada trade world, kenaikan harga minyak, ada kenaikan suku bunga di Amerika," katanya.

"Ditambah lagi dengan faktor Turki, yakni dengan terpuruknya Lira," pungkasnya. (RO/OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya