MASYARAKAT tetap optimistis meski Indonesia resesi. "Sebanyak 60% masyarakat Indonesia bilang secara ekonomi Indonesia masih mengalami sedikit resesi tapi masih yakin akan membaik walau belum kembali seperti semula," ujar Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin saat paparan hasil studi Nielsen Consumer Confidence Index kuartal I 2015 di Jakarta, Rabu (20/5).
Resesi sendiri memiliki dampak yang cukup signifikan terutama untuk pengusaha otomotif dan properti. Di sisi lain masih ada industri yang bertahan positif yakni industri ready to drink dan home care.
"Itu masih naik cukup signifikan. Masih ada yang naik chemistry industry," tambahnya.
Perilaku masyarakat juga berubah yang mana 80%-nya lebih giat menabung.
Kalaupun ada belanja konsumsi maka teknologi dan baju baru menjadi hal yang tidak terlalu penting. Namun sektor komunikasi, groceries, dan financial services tidak bisa dikurangi belanjanya.
"Tetap harus telepon tidak kurangi spending dalam komunikasi. Telkomsel naik 11% di kuartal I. Market share cukup tinggi," jelasnya.
Secara keseluruhan pergerakan ekonomi di Indonesia yang didominasi dari belanja konsumsi masih datar atau belum ada pertumbuhan signifikan.
Pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2015 yang 4,71% memiliki selisih cukup signifikan ketimbang kuartal I 2014 sebesar 5,2%. Dari segi nilai Agus menyebut total Produk Domestik Bruto yang mencapai Rp9.000 triliun berkurang sampai setengahnya.
Pertumbuhan akan membaik bila likuidasi benar-benar dijaga. Selain itu belanja pemerintah terutama ke infrastruktur yang dipercepat akan mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Spending infrastruktur itu 14% dari GDP nasional. Itu besar, belum lagi dari foreign maupun investment. Saya menaruh confident di situ," katanya. (Q-1)