Revisi Rencana Kerja BP Tangguh Lebih Efisien

Jessica Sihite
20/5/2015 00:00
Revisi Rencana Kerja BP Tangguh Lebih Efisien
(ANTARA/Yusran Ucang)

British Petroleum (BP) Tangguh sudah menyerahkan revisi work program and budget (WP&B) tahun ini kepada Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Pada tahun ini, perusahaan asal Inggris itu mengurangi belanja modalnya (capex) sebesar 20% dari target semula.

Head of Country BP Indonesia Dharmawan Samsu menyampaikan revisi WP&B dengan mengurangi capex itu dilakukan lantaran melemahnya harga minyak dunia. Efisiensi di tubuh perusahaan dinilainya harus dilakukan karena harga LNG juga ikut terpengaruh merosot.

''Harga LNG berbanding lurus dengan minyak. Nah sayangnya biaya ga ikut turun seiring turunnya harga minyak,'' ucap Dharmawan saat berbincang dengan media di Jakarta, Selasa malam (19/5).

Tidak hanya pengurangan capex, tenaga kerja di BP Indonesia juga mengalami pengurangan. Dari sekitar 1.000 tenaga kerja BP Indonesia, sekitar 8%-10% tenaga kerja akan diberhentikan.'' Yang dikurangi kebanyakan yang di Jakarta. BP Tangguh sedikit saja,'' cetusnya.

Kendati adanya upaya efisiensi, Dharmawan menegaskan BP Tangguh tidak akan mengurangi produksi LNGnya. "Produksi akan tetap. Di 2015 akan tetap ditargetkan 116 kapal atau setara 3,8 juta ton metrik ton," imbuhnya.

Kilang LNG Tangguh Train 3

Terkait proyek Kilang LNG Tangguh Train 3 di Teluk Bintuni, Papua Barat, Dharmawan mengatakan saat ini proses marketing untuk mencari pembeli masih terus dilakukan. Dari 3,8 juta ton LNG yang akan dihasilkan, 1 juta ton akan dibeli oleh perusahaan asal Jepang, Kansai Electric Power Co. PT Perusahaan Listrik Negara (persero) juga telah berkomitmen untuk membeli 1,5 juta ton LNG dari sana.

Saat ini, bisa dikatakan proses studi kelayakan masih terus dilakukan. "Target kita 2016 bisa FID (final investment descision)," ujar Dharmawan.

Selain hambatan terkait pembeli, BP Tangguh juga mengalami kesulitan mencari sumber dana untuk membiayai proyek senilai US$12 miliar itu.

Seperti diketahui, pembiayaan proyek ini rencananya menggunakan skema pinjaman trustee borrowing scheme (TBS). Skema TBS itu untuk mencari utang dari tiga bank badan usaha milik negara (BUMN), yakni Bank Mandiri, BNI, dan BRI. 

''Perlu ada dukungan pemerintah juga dialog dengan pihak terkait setempat (pemda),'' pungkasnya. (Jes)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya