Impor Barang Modal dan Bahan Baku Turun

Jessica Sihite
16/5/2015 00:00
Impor Barang Modal dan Bahan Baku Turun
(--(ANTARA/Yudhi Mahatma))
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada April 2015 mencapai US$12,63 miliar atau naik 0,16% ketimbang Maret 2015. Sementara jika dibandingkan dengan April tahun lalu turun 22,31%. Secara kumulatif Januari-April 2015, nilai impor mencapai US$49,36 miliar atau turun 17,02% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Secara rinci, nilai impor kumulatif migas sebesar US$8,44 miliar dan nonmigas sebesar US$40,92 miliar. Nilai kumulatif impor migas turun 42,57% dan impor nonmigas turun 8,64% ketimbang periode yang sama tahun lalu.

Menurut golongan penggunaan barang dan perubahannya, nilai impor golongan barang konsumsi, bahan baku atau penolong, dan barang modal selama Januari-April 2015 turun ketimbang periode yang sama tahun lalu.

Pada Januari-April 2015, nilai impor barang konsumsi mencapai US$3,451 miliar atau turun 15,74%. Nilai impor bahan baku atau penolonh mencapai US$37,4 miliar atau turun 17,81% ketimbang periode yang sama tahun lalu. Sementara nilai impor barang modal pada Januari-April 2015 mencapai US$8,5 miliar atau turun 13,94% ketimbang tahun lalu.

Meski terjadi penurunan nilai impor bahan baku atau penolong dan barang modal, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan secara volume, impor kedua golongan tersebut mengalami penaikan.

"Volume bubur kertas naik 3%. Besi dan baja pada Januari-April naik jadi 4,3 juta ton, tapi memang nilainya turun 10,21%. Jadi barang kita semakin banyak yang masuk, tapi harganya lebih murah," ujar Sasmito di Kantor BPS Pusat, Jakarta, Jumat (15/5).

Ia juga menyatakan mesin dan peralatan mekanik cenderung mengalami penaikan volume, yakni dari 856 ribu ton pada Januari-April 2014 menjadi 879 juta ton pada Januari-April 2015. Angka itu naik sebesar 2,7%.

"Tetapi, secara nilai turun dari US$8,577 miliar jadi US$7,724 miliar," cetusnya.

Sasmito menjelaskan penurunan nilai impor pada periode Januari-April memang tidak serta-merta disebabkan oleh penurunan volume impor. Pada periode tersebut, kata dia, harga barang impor cenderung menurun diiringi oleh melemahnya beberapa nilai mata uang negara pengimpor. " Harga sedang bersaing di pasar dunia dan mumpung murah, jadi kita kena harga murah," ujarnya.

Adapun impor terbesar Indonesia pada periode tersebut berasal dari Tiongkok dan Jepang. Tingkok, kata Sasmito, mengambil porsi impor hampir 25% dari total impor Indonesia, sedangkan Jepang mengambil porsi 12,35%.

Kendati demikian, dia menyarankan agar barang modal untuk infrastruktur bisa diproduksi di dalam negeri, agar tidak menimbulkan defisit yang lebih besar.

Di sisi lain, nilai ekspor Indonesia pada April 2015 mencapai US$13,08 miliar atau mengalami penurunan 4,04% ketimbang Maret 2015. Demikian juga turun dari April 2014 sebesar 8,46%.

Ekspor nonmigas Indoneaia pada April 2015 mencapai US$11,63 miliar atau turun 0,17% dibanding Maret 2015 dan 0,13% ketimbang April 2014. Penurunan ekspor nonmigas terbesar disumbang oleh bahan bakar mineral sebesar US$199,3 juta atau turun 11,73%. Sementara penyumbang ekspor nonmigas terbesar ialah lemah dan minyak hewan/nabati sebesar US$270,8 juta atau naik 17,18%.

Pada April silam, Amerika Serikat mengambil porsi ekspor dari Indonesia yang terbesar, yakni senilai US$1,38 miliar. Angka itu juga mengalami penaikan dari Maret sebesar 3,14% dengan komoditas terbesar dari karet, kopi, dan sepatu. "Kebutuhan olahraga basket di sana masih besar, jadi ekspor sepatu naik," lanjutnya.

Melalui sambungan telepon, pengamat ekonomi Ahmad Erani mengatakan turunnya impor barang modal lebih disebabkan oleh masih banyaknya perusahaan yang menahan untuk melakukan investasi dan meningkatkan produksi. Padahal, ia menilai Indonesia masih sangat membutuhkan impor barang modal dan bahan baku untuk menopang perkembangan produksi dalam negeri.

Ia pun masih pesismistis target pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun bisa mencapai angka 5,7%. "Tahun ini 5,5% pun sudah maksimal. Saya rasa pemerintah harus buat skenario baru," ujarnya.

Erani menyarankan agar menteri-menteri di bidang ekonomi harus segera menyiapkan langkah antisipasi agar nilai dan volume ekspor semakin meningkat. Intensif fiskal untuk mengairahkan investasi di dalam negeri dan menekan angka PHK menurutnya bisa dilakukan oleh para menteri ekonomi.

"Kita punya potensi surplus, tapi perdagangan domestik dan luar negeri akan mengalami penurunan karena pergerakan ekonomi yang rendah dibanding tahu lalu. Sekarang bagaimana langkah antisipasi pemerintah untuk dorong ekspor," imbuhnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya