Menkeu: Ekonomi Bertumbuh 5,4% Lebih Realistis

Irene Harty
13/5/2015 00:00
Menkeu: Ekonomi Bertumbuh 5,4% Lebih Realistis
(ANTARA/WAHYU PUTRO A)
MENTERI Keuangan Bambang Brodjonegoro mengungkapkan perubahan asumsi pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari asumsi APBN Perubahan 2015 dilihat lebih realistis.

"Sekarang ini kita lihat mungkin 5,4% lebih realistis," ujarnya usai sambutan seminar bertajuk 'Strategi Mewujudkan Arsitektur Sistem Keuangan dan Perbankan Nasional yanb Tangguh di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (13/5).

Perubahan asumsi itu bukan berarti menurunkan asumsi pertumbuhan ekonomi tapi mengupayakan pertumbuhan ekonomi sebaik mungkin. Pertumbuhan diasumsikan 5,7% di APBN Perubahan 2015 memang sesuai dengan kondisi yang diproyeksikan saat itu.

Perubahan itu juga banyak dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang masih bergejolak. Tapi banyak pihak berpendapat sekali buta asumsi seolah-seolah tidak dapat berubah padahal ekonomi bergerak dinamis.

Tantangan kondisi global pula yang menyebabkan asumsi pertumbuhan ekonomi dunia menurun. "Prediksi pertumbuhan ekonomi global saat ini diturunkan dari 3,6% awal tahun menjadi 3,1%,"

Pelambatan ekonomi itu melihat bahawa beberapa ekonomi besar seperti Tiongkok juga menurunkan asumsi pertumbuhan ekonominya menjadi sekitar 6%. Tiongkok pula menurut Bambang sudah melakukan penurunan interest rate beberapa kali mengingat basis pertumbuhan pada konsumsi juga menurun.

Di sisi lain normalisasi kebijakan moneter kuga masih dianggap masih belum dapat dilakukan. "Banyak pihak di Amerika Serikat bilang belum stabil seperti dalam konteks pengurangan pengangguran jadi proses recovery jalan tapi belum stabil," lanjutnya.

Hal itu juga dipengaruhi oleh gejala super dolar yang dikhawatirkan oleh Amerika Serikat dapat menggerus ekspor. Dengan begitu ada kemungkinan normalisasi suku bunga acuan akan diperkecil dari yang direncanakan.

"Itu pun tidak bisa terlalu lama karena cost nya tinggi," tambah Bambang. Dari Eropa, European Central Bank telah melakukan pembelian aset hingga 1,3 triliun Euro dari sebelumnya 26,2 miliar Euro per 18 Maret.

Guyuran dana juga datang dari Jepang yang juga sudah membeli aset mencapai 18,83 juta Yen. Akan tetapi guyuran dana tersebut dikatakan Bambang tidak akan berdampak pada naiknya harga komoditas.

"Itu karena ada vacum cleaner dari Amerika Serikat yang berusaha menarik kembali dollar mereka," sahutnya. Dampak yang terjadi sekarang lebih netral meskipun negara emerging economy mendapat pengaruh cukup besar.

Kedepannya Jepang dilihat akan bersyukur bila terjadi inflasi, India meskipun pertumbuhan ekonomi baik tapi masih banyak kendala, lalu Tiongkok ekonominya masih melambat sekitar 6,84%, serta Rusia, Turki, Brazil, South Africa masih mengalami pertumbuhan negatif. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya