Masih Ada Opsi Lain Selain Impor Beras

Iqbal Musyaffa
12/5/2015 00:00
Masih Ada Opsi Lain Selain Impor Beras
( MI/Galih Pradipta)
PEMERINTAH harus memperhatikan dengan cermat rencana untuk melakukan impor beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saat puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Hasil Sembiring, pada Juni nanti posisi produksi beras nasional akan mengalami kelebihan pasokan sebesar 691.256 ton. 

“Pada Juni beras yang tersedia untuk konsumsi diperkirakan sebanyak 3,36 juta ton dengan kebutuhan konsumsi sebesar 2,67 juta ton,” ujarnya ketika ditemui di Jakarta, Selasa (12/5).

Defisit produksi beras selama 2015 diperkirakan hanya terjadi di Januari sebesar 877.087 ton. Surplus beras terbesar terjadi pada Maret sebanyak 4,2 juta ton. Produksi beras ketika itu sebanyak 6,87 juta ton. “Kondisi di bulan Mei diperkirakan akan surplus 935.573 ton,” tambah Hasil.

Namun, ia menduga kelebihan produksi yang besar tersebut berada di tangan penjual ataupun pihak swasta yang menimbun beras. Akibatnya pasokan beras yang berada di pasar berkurang sehingga memunculkan opsi wacana untuk impor.

“Banyak pedagang menyimpan beras karena pemerintah telah menyatakan tidak akan impor. Kita belum ada datanya berapa beras yang disimpan di pedagang,” Hasil menjelaskan.

Menurut dia,  kendala penyerapan beras oleh Bulog karena harga pembelian pemerintah masih di bawah harga pasar. “Akan tetapi, terdapat 55 kabupaten di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Banten dengan harga gabah kering panen di bawah HPP (harga pembelian pemerintah) yaitu sebesar Rp 2.600-Rp3.500.”

Kementan juga sudah melakukan kerja sama dengan Dirut Bulog terkait pemasaran hasil program upaya khusus peningkatan produksi padi. “Kita buka akses ke Bulog untuk mendapatkan informasi lokasi panen dan tanam,” jelasnya.

Data Kementerian Pertanian menyebutkan luas area tanam untuk padi di musim tanam 2013-2014 sebesar  8,151 juta hentare (ha). Rata-rata area tanam sejak 2009 hingga 2014 seluas 8,158 juta ha. “Sasaran area tanam di musim 2014/2015 seluas 9,2 juta ha, tetapi baru terealisasi 8,89 juta ha di Oktober 2014-Maret 2015. Terjadi peningkatan 745 ribu ha dari periode sama tahun sebelumnya,” papar Hasil. 

Dengan kondisi tersebut, ia optimistis akan terdapat tambahan produksi 3,5 juta ton dengan asumsi jumlah produksi 5 ton/ha. Atas dasar kondisi itu pula, Hasil menilai belum saatnya untuk dilakukan impor. “Produksinya lebih. Tapi memang ada kendala penyerapan beras oleh Bulog. Itu yang harus dibenahi,” tegasnya.

Hasil mengatakan apabila pemerintah masih ingin fokus untuk menyerap produksi beras petani di dalam negeri, perlu dibentuk mekanisme penyerapan lain selain hanya menggunakan HPP saat ini. Ia mengakui sangat berat bagi Bulog untuk menyerap produksi dalam negeri apabila hanya menggunakan mekanisme HPP. Hingga saat ini penyerapan Bulog baru sekitar 750 ribu ton.

“Salah satu mekanisme lain yang perlu dipikirkan adalah dengan menghidupkan kembali Inpres 8/2011 yang mengatakan bahwa Bulog dapat menyerap beras di tempat dengan menggunakan harga pasar dii lokasi tersebut. Itu agar Bulog tetap dapat berperan sebagai stabilitator harga,” usulnya.

Hasil  pun sangat yakin dengan kondisi saat ini, meskipun menjelang Ramadhan dan Iedul Fitri, produksi beras dalam negeri masih sangat mencukupi, sehingga pemerintah tidak perlu impor.(E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya