Daya Beli Belum Meningkat Secara Fundamental

Fetry Wuryasti
06/8/2018 20:50
Daya Beli Belum Meningkat Secara Fundamental
(Ist)

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan II - 2018 tumbuh sebesar 5,27%. Pertumbuhan ekonomi triwulan II ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan triwulan I 2018 yang sebesar 5,06%, dan lebih tinggi dari triwulan II 2017 yang sebesar 5,01%

Strukturnya sebesar 55,43% masih dikontribusi dari konsumsi rumah tangga,yaitu mengisi 2,75%.

Pertumbuhan signifikan terjadi dari konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,14% di triwulan II/2018, didukung dari penjualan eceran tumbuh 6,42% dari 4,98 %. Penjualan wholesale sepeda motor dan mobil penumpang masing-masing tumbuh 18,96 % dan 3,25 %, setelah triwulan II/2017 terkontraksi 10,93 % dan 11,22 %.

Selain itu pertumbuhan terdorong dari antuan sosial tunai dari pemerintah tumbuh 61,69 %, menguat dari Triwulan II/2017 yang tumbuh 18,57 %.

Dari indikator angka-angka ini, pengamat ekonomi Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan pertumbuhan / daya beli masyarakat terjadi karena faktor seasonal akibat cairnya THR dan gaji 13 PNS.

"Secara fundamental belum ada peningkatan yang berarti pada daya beli kita. Investasi dan net ekspor anjlok. Jadi mungkin ini karena efek 'bagi-bagi uang' saja," ujar Ahmad Heri saat dihubungi, Senin (6/8).

Sebab, pertumbuhan industri hanya sebesar 3,97%, dibanding transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,59%.

"Kalau konsumsi rumah tangga tumbuh 5,1% saya  percaya, karena ada lebaran dan pilkada. Tapi kalau investasi hanya 5,8% dan ekspor defisit, sulit ketemu angka 5,2% lebih,"  ujar Pengamat Indef lainnya, Enny Sri Hartati.

Dari data ,kata Enny, terlihat yang berubah signifikan dari triwulan I / 2018  adalah pertumbhn impor. Sedangkan yang lain relatif sama, kecuali Konsumsi rumah tangga.

"Efektif juga ya gaji 13 dan THR ditambah bansos. Tapi kalau bukan efek struktural,  tetap agak sulit dipercaya juga bisa tembus 5,27%," terang Enny.

Sebelumnya kepala BPS Suhariyanto didukung dengan periode lebaran dan musim panen konsumsi rumah tangga menyentuh tertinggi di 5,14%. Namun setelah momen pendorong konsumsi ini selesai, maka akan sulit mengejar angka tersebut.

"Kalau konsumsi di triwulan III dan IV bisa tetap di 5,14 merupakan titik optimis. Sebab dengan berbagai faktor, dia melihat kemungkinan tidak akan sekuat konsumsi di triwulan II," terang Suhariyanto. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya